Akar Pemikiran Feminis

adminNN

Oleh: Faizah Azhari

Akhir-akhir ini berbagai aktivitas dilakukan untuk mengampanyekan penghapusan kekerasan seksual. Aktivitas tersebut sangat bervariasi, mulai dari acara nonton film bersama, seminar, pengumpulan tanda tangan di kampus, mall, serta media sosial, sampai agenda yang bersifat serius, yaitu pengajuan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS). Kampanye tersebut digalakkan karena adanya pihak-pihak yang menyatakan bahwa di Indonesia terjadi “Darurat Kekerasan Seksual”. Karena maraknya pemberitaan terkait perkosaan, pencabulan, dan penyiksaan bernuansa seksual yang kadang berujung pada pembunuhan terhadap korban.

Dengan melihat kondisi tersebut, kita perlu untuk mempelajari secara objektif hal-hal yang menyebabkannya. Saya mencoba membagi setidaknya ada 2 tantangan besar yang dihadapi yaitu westernisasi dan sekularisasi. Westernisasi adalah gerakan yang mendorong kaum muslimin untuk menerima seluruh pemikiran dan perilaku barat. Sementara Sekularisasi berusaha membebaskan manusia dari agama dan pengaruh metafisik yang mengontrol  logika dan bahasa mereka. Ideologi Feminisme yang sekarang marak digulirkan dengan nama ‘Kesetaraan Gender’ merupakan ideologi yang tidak objektif dan relatif. Hal ini dikarenakan beberapa sebab.

Pertama, mengenai sejarah dan konsep ideologi feminisme itu sendiri. Gerakan feminis adalah sebuah gerakan sekumpulan aktivis perempuan di Barat yang memiliki tingkat subjektifitas dan relativitas yang tinggi. Ia dilandasi dengan semangat protes dan ketidakpuasan kaum feminis atas keadaan sosial kaum perempuan yang masih belum sepenuhnya diakui dalam struktur masyarakat barat pada saat itu. Tertullian (BGP) pada tahun 150 M mengatakan;

Wanita yang membukakan pintu bagi masuknya godaan setan dan membimbing kaum pria ke pohon terlarang untuk melanggar hukum Tuhan, dan mebuat laki-laki menjadi jahat serta menjadi bayangan Tuhan.”

John Chrysostom (BGY) pada tahun 345-407 M berkata bahwa “Wanita adalah setan yang tidak bisa dihindari, suatu kejahatan dan bencana yang abadi dan menarik, sebuah resiko rumah tangga dan ketika beruntungan yang cantik.

Dalam buku Summa Theologia oleh Thomas Aquinas  antara tahun 1266 dan 1272, Aquinas sepakat dengan Aristoteles, bahwa “Perempuan adalah laki-laki yang cacat atau memiliki kekurangan (defect male). Menurut Aquinas, bagi para filsuf, perempuan adalah laki-laki yang diharamkan,  dia diciptakan dari laki-laki dan bukan dari binatang. Sedangkan Immanuel Kant berpendapat bahwa perempuan mempunyai perasaan kuat tentang kecantikan, keanggunan, dan sebagainya, tetapi kurang dalam aspek kognitif, dan tidak dapat memutuskan tindakan mrora.”

Pada abad pertengahan, abad Pertengahan merupakan abad kebangkitan agama Katolik di Eropa. agama berkembang dan mempengaruhi hampir seluruh kegiatan manusia, termasuk pemerintahan. Sains terpinggirkan, dianggap  seperti ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari Tuhan. Serta wanita dan  budak mengalami saat-saat terburuk. Dianggap hina, rendah, disiksa serta bebas diperjual belikan.

Kedua, posisi agama di Barat yang dijadikan pijakan nilai-nilai masyarakat ternyata menimbulkan persoalan karena dipandang tidak adil dalam menempatkan perempuan. Akhirnya, feminisme menghasilkan gerakan perlawanan atas sistem patriarki dalam agama yang merambah ke seluruh lini kehidupan seperti; politik, pendidikan, sosial, dan ekonomi lalu mengakar dalam sikap, nilai, bahasa dan pemikiran.

Perempuan Eropa menyimpulkan bahwa;

Agama = diskriminasi

Pemuka agama = laki-laki

Laki-laki = diskriminasi

Dendam lokal inilah yang mengakar sampai saat ini dan menggeneralisir kepada semua laki-laki serta semua agama menindas perempuan.

Ideologi yang tercipta dari konstruksi sosial atas keinginan segelintir kaum ini, tentu akan merepotkan jika dibiarkan. Dr. Hendri merujuk pada Marlene LeGates, dalam ‘In Their Time, A History of Feminism in Western Society (New York & London: Routledge, 2001) menyebutkan bahwa feminisme terlihat sebagai paham yang beragam, tidak tunggal dan senantiasa berkembang. Jadi, seorang feminis memiliki pandangan pribadinya sendiri tentang feminisme.

Suatu paham yang miskin objektifitas namun kental dengan relativitas dan kerancuan ini, mana mungkin mampu menjadikan asas dalam bermasyarakat. Yang terjadi justru sebaliknya, yaitu mendekonstruksi tatanan masyarakat.

Renaissance (Abad pembaruan) mulai abad ke-17. Thn 1785 berdiri sebuah komunitas ilmiah untuk perempuan di  Middleburg, Belanda yang dibangun atas dasar semagat perlawanan. Para perempuan yang merasakan hal yag sama berkumpul membuat komunitas tersebut. Ada beberapa tokoh yang mencetuskan akar pemikiran feminism, diantaranya;

  • Lady Mary Wontley Montagu. Ia merupakan istri duta besar Inggris untuk Turki. Menuliskan pengalamannya melakukan perjalanan pada masa kerajaan Ottoman. Setiap perjalanan dan tulisan beliau dianggap sebagai pencetus pemikiran feminism.
  • Marquis de Condorcet. Ia menulis tentang persamaan hak perempuan dan laki-laki. Lalu Ia ditangkap dan mati dalam penjara karena melanggar peraturan di Bible.

Kaum perempuan saat itu terus bergerak dengan nama “Women Movement” memanfaatkan gejolak politik di tengah revolusi yang mengusung isu liberty, equality dan fratenity. Pada bulan oktober 1789 perempuan – perempuan pasar di Perancis berjalan dari Versailles yang diikuti oleh pasukan keamanan nasional. Kata ‘feminism’ dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis,Charles Fourier pada tahun 1837.

Pergerakan Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, the Subjection of Women (1869). Perjuangan mereka menandai kelahiran feminism. Tahun 1848 mengorganisir pertemuan akbar Konvensi Hak-Hak Perempuan di Seneca Falls  yang dihadiri oleh 300 peserta laki-laki dan perempuan. Pertemuan itu kemudian menghasilkan  deklarasi yang menuntut reformasi hukum-hukum perkawinan, perceraian, properti  dan anak. Dalam deklarasi tersebut mereka memberi penekanan kepada hak perempuan  untuk berbicara dan berpendapat di dunia publik. Konvensi di Seneca Falls merupakan bentuk protes kaum perempuan terhadap pertemuan akbar konvensi penghapusan perbudakan sedunia pada taun 1840, dimana kaum perempuan tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.

Menurut Susan Osborn, Feminisme adalah cara melihat dunia (Worldview) di mana perempuan melihatnya dari perspektif perempuan. Feminisme memusatkan perhatiannya kepada konsep patriarki yang dimaknai sebagai sistem kekuasaan laki-laki yang menindas perempuan melalui lembaga-lembaga sosial, politik dan ekonomi.

Setidaknya ada empat gelombang pergerakan feminisme yang telah terjadi, Gelombang pertama (1848-1920) disebut suffrage period dengan “hak memilih” (right to vote) sebagai bentuk partisipasi dalam demokrasi. Dalam buku Women in Movement: Feminism and social Action (Sheila Rowbotham), Gerakan itu dimulai dengan The Seneca Falls Convention yang dipimpin Elizabeth Cady Stanton pada 1848, di mana 300 perempuan dan laki-laki melakukan rally untuk ekualitas. Gelombang pertama ini ditandai dengan publikasi Mary Wollstonecraft yang bejudul Vindication of the Rights of Women tahun 1792. Wollstonecraft mendeskripsikan bahwa kerusakan psikologis dan ekonomi yang dialami perempuan disebabkan oleh ketergantungan perempuan secara ekonomi kepada laki-laki dan peminggiran perempuan dari ruang public.

Gelombang kedua (1960-1988) menurut Ann E. Cudd dan Robin O. Andresen dalam buku Feminist Theory; a philosophical Anthology, gelombang kedua ini merupakan era “perjuangan” kesetaraan akses untuk menembus beberapa “wilayah” yang dibatasi bagi perempuan. Era itu juga merupakan masa perjuangan membebaskan perempuan-perempuan minoritas yang teridentifikasi sebagai lesbian, non-Kaukasia, memerlukan kebutuhan khusus, dan lainnya agar mempunyai kedudukan sama secara hukum dan mendapatkan kesempatan yang sama (Seksisme).

Gelombang ketiga (1988-2010) merupakan era “peremajaan” konsep feminisme itu sendiri, di mana “feminisme” dipandang sebagai suatu spektrum dalam paradigma post-colonial dan post-modernism. Feminisme “garis keras” bukanlah satu-satunya definisi yang sahih. Pada gelombang ketiga ini, feminis menginginkan keragaman perempuan (women’s diversity) secara umum. Sebagai contoh, ketertindasan perempuan-perempuan kulit putih kelas menengah berbeda secara signifikan dengan penindasan yang dialami oleh perempuan kulit hitam Amerika. Ketertindasan kaum perempuan heteroseksual berbeda dengan ketertindasan yang dialami oleh kaum lesbian dan sebagainya.

Gelombang keempat merupakan “era pembebasan” feminisme sehingga tidak perlu lagi dikotak-kotakkan dalam kategorisasi. “There is no one entity, “Woman,” upon whom a label may be fixed. Women are individuals, each with a unique story to tell about her particular self”.

Dari empat gelombang ini dapat disimpulkan bahwa feminisme terlihat sebagai paham yang beragam, tidak tunggal dan senantiasa berkembang. Jadi, seorang feminis memiliki pandangan pribadinya sendiri tentang feminisme. Selanjutnya ada tiga cabang ideologi feminisme, yaitu;

Feminisme Liberal, Manusia adalah otonom yang dipimpin oleh akal (reason). Dengan akal manusia mampu untuk memahami prinsip-prinsip moralitas, kebebasan individu. Prinsip-prinsip ini juga menjamin hak-hak individu. Isu yang diangkat adalah akses pendidikan kebijakan negara yang bias gender, hak-hak sipil, politik.

Feminisme Radikal, Sistem seks/jender merupakan dasar penindasan terhadap perempuan. Isu yang dibawa adalah adanya seksisme, masyarakat patriarki. Hak-hak reproduksi. Hubungan kekuasaan antra perempuan dan laki-laki (power relationships). Dikotomi Private/Public. Lesbianisme.

Feminisme Marxis/ Sosialis, Materialisme Historis Marx yang mengatakan bahwa modus produksi kehidupan material mengkondisikan proses umum kehidupan sosial, politik dan intelektual. Bukan kesadaran yang menentukan eksistensi seseorang tetapi eksistensi sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka. Salah satu isu yang diangkat adalah ketimpangan ekonomi.

FEMEN – extreme feminist, berdiri 10 April 2008  di Ukraina dan telah menyebar ke beberapa negara. Bagi Femen, kedaulatan tubuh ada pada dirinya. Ketika seorang perempuan tidak peduli terhadap pakaiannya, itulah kebebasan yang sesungguhnya. Sebab ada 3 prinsip yang dibawa oleh Femen yaitu agama, seks industry, dan kediktatoran.

Akar permasalahan feminism;

  1. Membenci laki-laki; ingin menghapus laki-laki dari muka bumi.
  2. Menganut relativism; paham beragam antar negara, tidak tunggal, dan bebas berkembang.
  3. Feminis tidak bisa sepakat kebebasan seperti apa yang diperjuangkan; ada yang memperjuangkan sex, hak, dll.
  4. Menghancurkan Institusi Keluarga; ingin semua fungsi keluarga dipegang oleh perempuan.
  5. Menyuburkan homoseksual (LGBT); feminis kaffah akan memperjuangkan hak-hak LGBT. Yang berarti memperjuangkan selain laki-laki dan perempuan.

Kehebohan mereka juga tercatat dalam aksi-aksi masal feminis di jalan yang membawa poster-poster bertuliskan: ”Bukan baju gue yang porno, tapi otak lo”, juga “My rok mini, my right, foke you” dan, “My body is mine”.

Teriakan-teriakan itu sama sekali tidak beradab, tidak bermoral dan irasional. Membolak balikkan hukum dengan ‘seenaknya’.

Dalih pemberdayaan dan pembelaan terhadap perempuan, tanpa mereka sadari dipenuhi dengan kerancuan dan ironi. Hal ini dapat dilihat dari pertarungan definisi dan posisi mengenai feminisme dari setiap feminis yang biasa terjadi. Bahkan tidak sedikit yang menjadikan emosional perempuan untuk memiliki kesetaraan dalam kiprahnya diranah publik, justru sebagai cara pemanfaatan perbudakan kaum perempuan di dunia kerja.

Maka, bagi para perempuan, jadilah perempuan yang cerdas! Islam merupakan hadiah terindah. Sebab, banyak perempuan hebat yang dapat menjalankan kewajibannya dan pada saat yang sama juga berjuang membela kemuliaan Islam. Sebut saja, Bunda Khadijah. Beliau adalah sosok perempuan pertama yang masuk Islam dan berjuang membantu Rasulullah menyebarkan dakwah Islam. Lalu ada Ruqayyah, istri Utsman bin Affan; perempuan pertama yang syahid (meninggal ketika perang) dan pertama hijrah ke Madinah dari kalangan perempuan. Ada pula Aisyah, istri Rasulullah; salah satu dari kalangan shohabiyah yang menjadi perawi hadist terbanyak. Dan masih banyak lagi contoh yang menunjukkan bahwa perempuan dalam sejarah Islam mendapatkan tempat yang istimewa. Masyarakat muslim tidak pernah mengalami sejarah seperti yang dialami masyarakat Barat. Hukum syariat Islam tentang perempuan memiliki tujuan untuk memuliakan perempuan. Berbanggalah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe US Now

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial