ASET BANGSA HARUS TAU!

adminNN
Oleh: Indah Nur Janah

November dikenang sebagai hari istimewa para pendahulu hebat, dalam tulisan ini mari telusuri bersama, nama-nama yang asing, tapi penuh dengan darah juang. Adakah yang tahu? Siapa orang dibalik foto proklamasi Indonesia? Biasanya kita hanya mengetahui sosok Soekarno dan Hatta, yang ada dalam gambar tersebut. Perkenalkan ini mereka, Mendur Bersaudara. Frans Soemarto Mendur dan Alexius Impurung Mendur, dua bersaudara yang berhasil mengabadikan salah satu momen terpenting dalam sejarah Indonesia. Mereka merupakan fotografer yang mengabadikan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ya, foto proklamasi yang selama ini kita lihat merupakan hasil jepretan Mendur bersaudara ini. Sayangnya, Alex Mendur kemudian tertangkap oleh Jepang setelah berusaha menyembunyikan hasil foto yang telah ia ambil. Foto yang dibawa Alex kemudian dimusnahkan Jepang.

Disisi lain, Frans Mendur harus memanjat pohon dan menyelinap malam-malam untuk menyelamatkan tiga negatif film yang ia bawa. Tidak kehilangan akal, akhirnya ia menyembunyikan kepingan film itu di dalam tanah. Tepatnya di depan halaman kantor harian Jepang Raya. Kemudian Frans Mendur yang masih menjadi buronan Jepang, mengatakan kepada mereka kalau foto-fotonya telah ia berikan kepada Barisan Pelopor. Kebohongan tersebut kemudian menyelamatkan 3 foto yang akhirnya dapat kita saksikan sampai saat ini. Sebuah bukti yang membuat Indonesia berhasil mendapat pengakuan De Jure dari negara internasional Sayangnya, jasa kedua fotografer tersebut terlupakan begitu saja. Bahkan pada 24 April 1971, Frans Mendur meninggal dalam keadaan kesepian di RS Sumber Waras, Jakarta. Baru 38 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keduanya penghargaan berupa Bintang Jasa Utama, sebagai penghormatan atas jasa dan perjuangan mereka untuk kemerdekaan Indonesia.

Tak hanya berhenti disitu ada Politikus Wanita dari Sulawesi Selatan yaitu Opu Daeng Risadju ( 1880 – 1964 ) berkata:

“Kalau hanya karena adanya darah bangsawan mengalir dalam tubuhku sehingga saya harus meninggalkan partaiku dan berhenti melakukan gerakanku, irislah dadaku dan keluarkanlah darah bangsawan itu dari dalam tubuhku, supaya datu dan hadat tidak terhina kalau saya diperlakukan tidak sepantasnya.”

Pada tahun 2006, Opu Daeng Risadju dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Seperti apa perjuangan Opu Daeng Risadju? Opu Daeng Risadju adalah putri pasangan Muhammad Abdullah To Baresseng dan Opu Daeng Mawellu. Dia lahir di Palopo, 1880. Punya nama panggilan Famajjah, Opu Daeng Risadju merupakan gelar kebangsawanan Kerajaan Luwu yang didapatnya setelah menikahi H. Muhammad Daud. Sebagai keturunan bangsawan Luwu, sikap patriotisme tertanam pada dirinya. Dia mempelajari moral yang berlandaskan adat kebangsawanan serta peribadatan dan akidah agama Islam.

Masa kecilnya dihabiskan untuk terbiasa membaca Al-Quran. Dia juga belajar ilmu-ilmu agama seperti Nahwu, Sharaf, dan Balaghah. Suaminya bernama H. Muhammad Yahya, Opu Daeng Risadju mulai aktif di Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Yahya adalah pedagang Sulawesi Selatan yang pernah bermukim lama di Jawa dan mendirikan PSII di Pare-Pare. Setelah bergabung, Opu Daeng Risadju dan suaminya membuka PSII di Palopo pada 14 Januari 1930.

Karena Opu Daeng Risadju berjuang dengan landasan agama, aksinya diawasi Belanda. Dukungan besar dari rakyat membuat Belanda menahan Opu karena dianggap menghasut. Opu pun diadili dan gelar kebangsawanannya dicabut.Tekanan yang juga diterima suami dan keluarganya membuat Opu berhenti dari PSII. Pada 1934, Opu akhirnya dipenjara selama 14 bulan.

Opu kembali aktif pada masa Revolusi. Dia dan pemuda Sulawesi Selatan lainnya ikut serta berjuang melawan NICA yang ingin menjajah Indonesia. Karena keberaniannya dalam melawan NICA, Opu menjadi buronan nomor satu selama NICA di Sulawesi Selatan. Lagi-lagi, dia berhasil ditangkap di Lantoro. Lalu dia dibawa ke Watampone dengan berjalan kaki sepanjang 40 km. Tanpa diadili, Opu Daeng Risadju dipindahkan ke penjara Sengkang dan dibawa ke Bajo.

Saat di Bajo, Opu Daeng Risadju disiksa Kepala Distrik Bajo yang bernama Ladu Kalapita. Dia dibawa ke lapangan sepak bola dan disuruh lari berkeliling dengan diiringi letusan senapan. Setelah itu, Opu disuruh berdiri tegak menghadap matahari. Ludo Kalapita mendekatinya dan meletakkan laras senapan di pundak Opu yang saat itu berusia 67 tahun. Ludo Kalapita meletuskan senapannya sehingga Opu jatuh tersungkur mencium tanah di antara kaki Ludo Kalapita.

Akibat penyiksaan itu, Opu sisa hidupnya menjadi tuli. Setelah pengakuan kedaulatan RI pada 1949, Opu Daeng Risadju pindah ke Pare-Pare mengikuti anaknya. Pada 10 Februari 1964, Opu Daeng Risadju meninggal dunia. Dia dimakamkan di lokasi makam raja-raja Lokkoe di Palopo tanpa upacara kehormatan sebagaimana lazimnya seorang pahlawan.

Kita sebagai aset bangsa: para pemuda/i, penerus peradaban negara Indonesia diharuskan mengetahui sejarah, besarnya Indonesia agar nanti kelak, selalu ada cerita-cerita untuk anak cucu kita di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

BUKTI CINTA KEPADA RASULULLAH

Oleh: Thufailah Mujahidah Sebelumnya, izinkan aku untuk membawakan salah satu cerita dari buku “Islam The Faith of Love and Happiness” karya Haidar Bagir, yaitu tentang wanita tua yang selalu membersihkan halaman masjid dengan mengambil dedaunan yang berjatuhan. Suatu hari, jemaat masjid tersebut merasa kasihan kepada wanita tua tersebut sehingga mereka […]

Subscribe US Now

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial