BAGAIMANA AWAL MULA TERJADINYA SENTIMEN ANTI MUSLIM DI BARAT?

adminNN
Oleh: Yulan Mardiati

Seiring berjalannya waktu, semakin hari sentimen anti muslim di negara barat semakin terasa, seperti tak ada sekat yang membatasi mereka untuk terang-terangan mengungkapkan kabenciannya terhadap Islam. Hal yang masih hangat dalam ingatan adalah bagaimana Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang memberikan pembelaan terhadap publikasi kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW dan meluncurkan kampanye melawan radikalisme Islam pada Oktober 2020 lalu. Pada akhirnya hal tersebut menuai kecaman dari kaum muslim di berbagai belahan dunia. Indonesia sendiri bereaksi dengan memboikot seluruh produk Prancis yang ada di dalam negeri.

Dikutip dari Mata-Mata Politik, kebencian terhadap Islam terjadi karena adanya bab sejarah yang dihapus atau sengaja dilupakan atas nama narasi imperial tentang supremasi Barat. Hal itu terkait ambisi dari masyarakat kulit putih demi mendambakan kehidupan homogen, dimana mereka menjadi satu-satunya kaum yang penting. Penghapusan sejarah yang dirawat sedemikian rupa hingga saat ini berubah wujud dalam kebencian bernama Islamofobia.

Islamofobia dan terorisme anti-Muslim muncul dari anggapan bahwa Muslim bukanlah bagian dari Barat. Padahal jika dilihat kembali dari sejarah, umat muslim memiliki kontribusi penting dalam pembangunan negara-negara Barat modern. Kontribusi itu perlu kita pelajari dan terus dirawat untuk melawan kebohongan bahwa umat Islam bukan bagian dari Barat sehingga timbulah kebencian yang amat mendalam terhadap kaum Muslim hingga saat ini.

Islam dan sejarahnya tidak penah jauh dari pertumpahan darah. Setiap kesuksesan dalam pemerintahan sejak era Kesultanan Andalusia di abad ke-7 selalu diwarnai dengan perang dan pembunuhan. Menurut catatan Edward E. Curtis, Islam pada saat itu begitu dibenci karena tentaranya kerap menyerang kelompok Kristen Eropa hingga abad pertengahan. Sejarah semacam inilah yang justru dirawat oleh Barat hingga kini.

Padahal pada sisi yang lain, saat periode Taifa pada sejarah Spanyol abad ke-11 sampai ke-13 ada beberapa kerajaan kecil yang bersaing untuk memperebutkan kontrol politik Semenanjung Iberia, kaum Muslim juga pernah berjuang bersama militer Nasrani untuk melawan musuh. Sejarah seperti inilah yang sengaja dilupakan demi supremasi Barat.

Menurut European Islamophobia Report (EIR), sentimen anti muslim di Prancis naik 500% usai insiden Charlie Hebdo. Kemudian di Jerman, kelompok Pegida alias Patriotic Europeans Against the Islamisation of the West menduga bahwa ada upaya yang masif untuk mengislamkan Eropa, dan berusaha mengganti nilai-nilai luhur kebudayaan Eropa dengan Islam. Mereka juga menyebut Muslim adalah biang kerok atas naiknya berbagai kekerasan dan kriminalitas termasuk perkosaan, pelecehan seksual.

Merujuk pada sejumlah kasus penindasan ataupun sejarah kebaikan Islam yang sengaja dihapus oleh Barat maka memang seharusnya ada akar masalah yang harus diselesakan dengan bijak. Islam dan Muslin adalah kelompok yang setara dengan yang lain adalah sesuatu yang harus digaungkan di tengah sentimen anti Muslim yang terus menjalar. Hal tersebut tentu tidak bisa dilakukan semata-mata oleh satu pihak, namun tetap membutuhkan andil dari pihak non-Muslim untuk mengakui Muslim sebagai kaum yang berhak dilindungi dan dihargai atas nama kemanusiaan dan kedamaian di atas muka bumi.

Referensi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Feminisasi Al-Qur'an dan Hadits

Oleh Siti Fatimah Pengemasan feminisme secara apik dalam bahasa “perjuangan hak-hak perempuan” nyatanya telah membius sebagian umat Islam. Paham-paham feminisme di dunia Islam boleh jadi sudah dikenal sejak awal abad ke-20.  Terbukti atas pemikiran-pemikiran Aisyah Taymuriyah, penulis dan penyair Mesir;  Zaynab Fawwaz, esais Libanon;  Taj al-Salthanas dari Iran, Fatme Aliye […]

You May Like

Subscribe US Now

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial