Desain Yang Maha Agung

Oleh: Vicky Ardilla Nugroho

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “ Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Agama Islam tidak hanya sebatas membahas ritual ibadah saja, tetapi juga menceritakan kejadian proses penciptaan langit dan bumi yang sudah Allah desain sedemikian rupa sempurnanya. Sejak berabad lalu, dari masa ke masa manusia selalu mempertanyakan proses penciptaan alam semesta, berawal dari pertanyaan sederhana ini, kemudian muncul beragam teori-teori penciptaan alam semesta. Salah satu teori yang sampai saat ini banyak didukung karena data sains yang didapat adalah Big Bang Teori. Teori ini menjelaskan awal mula pembentukan alam semesta yang awalnya menyatu menjadi padatan yang memiliki tekanan dan suhu yang tak terhingga kemudian meledak dan mengembang hingga saat ini. Peristiwa ini sudah Allah informasikan kepada kita dalam Al-Quran surah Al-Anbiya ayat 30 :

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak melihat bahwasanya langit dan bumi itu terlebih dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Hal tersebut karena keberadaan akal manusia, maka dalam islam terdapat konsep bahwa akal-lah yang menjadi pembeda makhluk lainnya, maka keberadaan akal-lah yang menjadi kunci untuk mengetahui memahami penciptaan alam semesta kehidupan manusia dan jalan untuk mengenal Allah sebagai penciptanya. Maka kemudian lahirlah sains, meskipun begitu sains merupakan sebuah metodologi yang disusun berdasarkan aktivitas akal manusia dalam upaya memahami, memprediksi, dan menjelaskan fenomena alam semesta ini. Sains bukanlah kebenaran yang mutlak, sains terus berubah dan berkembang dari masa ke masa seiring pencapaian akal manusia dalam ilmu pengetahuan, ketika memahami setiap fenomena semesta alam.

Disinilah peran Al-Quran sebagai wahyu dari Allah SWT yang didalamnya sangat banyak petunjuk dan informasi yang hakikatnya dengan ilmu pengetahuan dan fenomena yang belakangan ini terbukti oleh sains modern, betapa luasnya ilmu Allah SWT, pada 14 abad lalu yang telah terkuak dalam kitab suci. Tanpa disadari oleh manusia bahkan kaum muslimin sendiri, karena keterbatasan ilmu pada saat itu. Diantara ayat yang mengindikasikan keterkaitan antara Al-quran dengan sains dalam firman Allah (Ali Imran 190-191)

Posisi benda langit, planet, bulan, matahari, dan bintang dahulu dipergunakan untuk meramal nasib manusia. Pengetahuan tentang ini dikenal sebagai astrologi, lalu ayat tersebut yang mengubah pandangan astrologi menjadi astronomi di zaman islam. Dengan mengajak manusia untuk senantiasa berdzikir dalam memikirkan penciptaan alam semesta. Menelaah posisi benda-benda langit merupakan sains, akan tetapi mengaitkannya dengan nasib manusia adalah pseudosains/sains palsu. Telaah benda-benda langit dalam astronomi meliputi mekanika dan fisik benda langit serta keterkaitan satu dengan yang lain dalam skenario besar alam semesta.

Al-Quran menegaskan bahwa penciptaan jagat raya meliputi langit, bumi, dan segala isinya terjadi dalam enam masa. Sejalan dengan informasi ini, ilmu pengetahuan juga mengungkatkan bahwa jagat raya saat ini terjadi melalui suatu proses yang amat panjang yang memungkinkan untuk dikelompokkan menjadi enam periode.

Dengan demikian terdapat kesesuaian antara informasi dalam Al-Quran dan penjelaskan yang diberikan para ilmuan melalui telaah dan penelitian yang mereka lakukan.
Setidaknya informasi seperti ini diungkapkan sebanyak 7x , diantara ayat yang menjelaskan hal ini adalah Surah Yunus ayat 3. Kata yaum pada ayat tersebut menjelaskan tentang waktu/periode penciptaan bukan seperti hari yang dipahami manusia saat ini. Hari/masa yang disebut dalam ayat ini dalam tuntutan agama hanya Allah saja yang mengetahui berapa lamanya. Dalam Al-Quran terdapat beberapa informasi tentang masalah ini, ada ayat yang menyebut 1 hari disisi Allah sama dengan 1000 tahun dalam hitungan manusia, seperti firmannya dalam Surah Al-Hajj ayat 47. Pada ayat lain dijelaskan bahwa satu hari itu sama dengan 50.000 tahun dalam hitungan manusia. Keterangan ini seperti disebutkan dalam Surah Al-Ma’arij ayat 4. Menurut Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Quran, Text, Translation, and commentary kata yaum atau bentuk tunggal dari ayyam disetarakan dengan kata dalam bahasa inggris age/aeon sedangkan oleh Abdul Su’ud seorang ahli tafsir abad 16, kata yaum disetarakan dengan pengertian peristiwa/ naubat. Memperhatikan pendapat itu jelaslah kata yaum lebih tepat bila diterjemahkan sebagai tahap/periode/masa. Dengan demikian kalimat fisittatiayyam dalam ayat-ayat tersebut lebih tepat untuk diterjemahkan sebagai dalam enam masa. Sebagai tambahan informasi yang tak kalah menarik kata yaumm yang berarti hari diulang sebanyak 365 kali di dalam Al-Quran. Hal itu sangat akurat dengan jumlah hari dalam 1 tahun waktu revolusi bumi. Apakah itu suatu kebetulan? Walllahu’alam

Merujuk pada Surah An-Nazi’at, Prof. Thomas Jamaluddin dalam buku menjelajah kekuasaan langit menembus kedalaman mata Al-Quran mengungkapkan bahwa 6 hari dapat bermakna sebagai 6 proses evolutif sejak penciptaan alam semesta pertama kali sampai penciptaan manusia sebagai jenis makhluk terakhir yang diciptakan allah. Proses dari penciptaan ini terus berlangsung sampai saat ini dan tidak terhenti pada suatu tahap tertentu. Maka jika dirincikan ayat-ayat tersebut mengungkapkan secara kronologis enam masa penciptaan sebagai berikut

  1. Masa pertama dimulai dari ayat 27 surah An-Naziat, ayat ini menjelaskan tentang penciptaan alam semesta dengan peristiwa big bang/ledakan besar sebagai awal lahirnya ruang dan waktu termasuk materi. Berdasarkan analisis astronomi kosmologi ledakan besar terjadi sekitar 13.7 miliar tahun yang lalu. Penciptaan pertama kali adalah energi dari partikel foton . dari partikel foton terbentuklah proton, neutro, dan elektron serta partikel lain yang tidak dikenal sains menggolongkanya sebagai materi gelap/dark energy. Dari proton dan elektron terbentuk hidrogen sebagai unsur pertama pembentuk bintang.
  2. Masa kedua dilanjutkan di ayat 28 Surah An-Naziat, ayat ini menjeaskan tentang pengembangan alam semesta sehingga benda-benda langit makin berjauhan yang dalam bahasa awam berarti langit semakin tinggi, lalu menyempurnakannya dalam arti pembentukan langit bukanlah proses kali jadi. Tetapi proses evolutif yakni perubahan bertahap dari awal bintang menjadi bintang lalu nanti akhirnya mati lalu digantikan oleh generasi bintang baru. Para astornomi yakin adanya pengembangan alam semesata berdasarkan analisis bergeseran spektrum unsur-unsur di galaksi jauh yang bergeser ke arah panjang gelombang yang semakin besar. Gerak menjauh galaksi-galasksi itu disebabkan karena ruang alam semesta yang mengembang. Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam surah Az-Zariyat ayat 47. Secara sederhana keadaan awal alam semesta yang mengembang itu dapat diilustrasikan dengan pembuatan roti, materi pembentuk roti itu semula terkumpul di dalam gumpalan kecil kemudian mulai mengembang dengan kata lain, ruang pada bagian dalam roti mengembang dianalogikan sebagai galaksi di alam semesta, butir-butir partikel di dalam roti saling menjauh sejalan dengan pengembangan roti itu sendiri. Dalam ilustrasi tersebut kita berada di salah satu partikel di dalam roti itu. Diluar roti kita tidak mengenal adanya ruang lain karena pengetahuan kita yang terbatas hanya di dalam ruang roti itu saja. Demikian pula kita tidak mengenal alam fisik lain di luar dimensi ruang dan waktu yang kita kenal saat ini. Allahuakbar! Betapa kecilnya kita dan terbatasnya pengetahuan kita di banding seluruh jagat raya ini.
  3. Masa ketiga termatuk dalam ayat 29 surah An-Naziat. Ayat ini menceritakan khusus tentang tata surya yang juga berlaku pada bintang-bintang lain, masa ini adalah masa penciptaan matahari yang bersinar dan bumi serta planet-planet lainnya yang berotasi sehingga ada fenomena malam dan siang. Adanya matahari sebagai sumber cahaya bumi yang berotasi menjadi malam dan siang. Menurut penelitian astronomi tata surya terbentuk sekitar 4.5 miliar tahun lalu dari awan antar bintang raksasa, mulanya awan bintang itu memadat sambil berotasi beputar pada sumbunya. Bagian tengah yang semakin memadat akan semakin panas, ketika suhunya mencapai puluhan ribu derajat mulailah reaksi nuklir, hidrogen berfusi dengan hidrogen menghasilkan helium dan energi bagian awan dalam bintang itu menjadi matahari yang mulai memancarkan energinya. Lambat laun debu-debu tersipak oleh angin matahari sementara debu yang memadat di sekitar matahari kemudian berproses membentuk planet-planet salah satunya bumi.
  4. Masa keempat pada ayat ke 30. Ayat ini menjelaskan proses evolusi di planet bumi setelah bulan terbentuk dari lontaran bagian kulit bumi karena tumbukan benda langit lainnya, lempeng benua besar atau pangea kemudian dihamparkan yang menjadikan benua-benua terpisah membentuk 5 benua plus Antartika. Bumi dihamparkan dalam ayat tersebut bermakna lempeng benua yang bergeser sedikit demi sedikit dalam waktu ratusan juta tahun sekitar 225 juta tahun lalu semua benua masih bergabung lalu benua Amerika mulai berpisah dari benua Eropa dan benua Afrika, sementara benua Asia bergabung dengan lempeng India-Autralia yang terlepas dari benua Afrika.
  5. Masa kelima pada ayat ke 31, ayat ini menjelaskan awal penciptaan di bumi dan juga di planet lain yang disiapkan untuk kehidupan dengan menyediakan air. Proses pemanasan yang menyebabkan penguapan dan pembentukan awan lalu hujan yang menyebabkan siklus hidrologi yang akhirnya memancarkan mata air . Al-Quran tidak menjelaskan proses awalnya tetapi hanya menguraikan substansi proses hidrologis yang dikaitkan dengan proses awal kehidupan yaitu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan sebagai makhluk hidup pertama. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar 3.5 miliar yang lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Di dalam Al-Quran surah Al-Anbiya ayat 30 disebutkan semua mahkluk hidup berasal dari air, lahirnya kehidupan di bumi dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan. Yang menarik proses lahirnya kehidupan terkait dengan skenario Allah menyiapkan kehidupan di bumi, hadirnya bakteri penghasil oksigen Cyanobaceria, tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 miliar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Adanya oksigen diperlukan oleh sebagian besar makhluk hidup yang bergerak manusia dan binatang dan akhirnya makhluk hidup sel tunggal mati karena tidak bisa mengurai oksigen karena respirasi yang kompleks.
  6. Masa keenam pada ayat 32-33. ayat ini menjelaskan lahirnya gunung-gunung akibat evolusi geologi dan mulai diciptakannya hewan dan manusia. Masa keenam ini menceritakan lahirnya binatang dan manusia setelah prasyarat kehidupan yang utama yaitu adanya air dan oksigen terpenuhi. Proses geologis akibat pergeseran lempeng benua yang memunculkan gunung-gunung juga merupakan konsepan fisik keseimbangan gerakan bumi, dan hal ini memungkinkan materi yang merupakan kandungan bumi dikeluarkan untuk kepentingan manusia sebagai khalifah di bumi. Berdasarkan temuan ilmiah yang diperoleh telah disusun sustu silsilah evolusi yang berawal dari sejenis bakteri bersel satu yang hidup sekitar 3.5 miliar tahun lalu. Dari jenis bakteri lahir generasi ganggang yang masih hidup di air, ganggang hijau yang hidup sekitar 1-2 miliar tahun lalu melahirkan generasi tumbuhan darat. Melalui jalur ganggang hijau sekitar 630 juta tahun lalu juga lahir generasi hewan tak bertulang belakang

Para ilmuan telah membuktikan betapa alam semesta ini diciptakan dengan sangat presisi, Allah mengisysratkan bahwa alam semesta diciptakan dalam struktur yang harmonis. Informasi ini dapat ditemukan dalam ayat Al-Quran diantaranya surah Ar-Raad ayat 2. Ayat ini menegaskan sebuah fenomena bahwa tiap-tiap benda langit itu seakan terapung kokoh ditengah-ditengah jagat raya tanpa ada tiang-tiang yang menyangga dan tanpa ada tali yang mengikatnya, memanglah benda-benda langit yang terlihat di alam ini terwujud tanpa tiang yang menyangganya, andai saja benda-benda sebesar itu musti memerlukan tiang untuk menyanggahnya dapat dibayangkan betapa semrawutnya alam semesta ini.

Selanjutnya Allah juga menjelaskan bagaimana Dia menundukkan matahari dan bulan dalam arti menetapkan keadaannya yang meliputi fungsi gerak rotasi, gerak revolusi (gerak pada poros dan orbitnya) yang terus berlaku masing-masing sesuai ketetapan waktu yang telah ditentukan. Demikian pula ketika menerangkan hakikat matahari dan bulan Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya matahari-lah yang memiliki cahaya sedangkan bulan tidak karena itu bulan tidak memancarkan setiap saat, sebab benda ini hanya memantulkan sinar matahari. Allah juga menerangkan bagaimana bulan bergerak pada posisi-posisi tertentu yang ternyata hal itu merupakan pertanda dari perjalanan waktu sehubungan dengan struktur seperti ini, Allah menginformasikan dalam surah Yunus ayat 5.

Menurut ilmu astronomi yang paling berperan dalam menstabilkan benda-benda langit adalah gaya gravitasi. Gaya gaya yang lain itu mungkin tidak terlihat tetapi efeknya dapat kita lihat dan rasakan dengan gaya itu matahari, bulan, dan semua benda-benda langit bergerak terus menerus yang satu mengitari yang lain seakan terus -menurus seperti tawaf, seperti umat islam saat menjalani ibadah haji . umrah. Semua ditundukan mengikuti hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan itulah yang disebut dengan Sunnatullah.

Pada ayat tersebut dijelaskan ketentuan Allah tentang garis edar atau orbit yang teratur dari matahari dan bulan. Hal itu berakibat munculnya pergantian siang dan malam dimaksudkan agar manusia mengetahui perhitungan tahun dan ilmu hisab, yaitu ilmu tentang perhitungan waktu yang didasarkan pada posisi bulan atau matahari, begitulah ketetapan Allah menciptakan alam semesta ini dengan penuh harmoni dan presisi, kemudian menjadikan manusia di kehidpan bumi untuk menjadi khalifah. Ketaataan pada peringatan Allah untuk menjaga alam ini akan membuahkan kebaikan bagi alam maupun manusia, namun demikian banyak pula diantara manusia yang justru tidak melakukan tugas ini seperti yang dikehendaki Allah, akibatnya dapat disaksikan fonemena-fenomena yang menjurus pada kerusakan dan kehancuran alam semesta sebagai mana firman Allah dalam surah Ar-Rum ayat 41. Penitipsan lapisan ozon hanya contoh awal yang dikhawatirkan dunia saat ini. Sangat banyak ayat-ayat didalam Al-Quran yang memperingatkan dasyatnya alam semesta ini diakhir zaman diantaranya dalam surah Al Waqia’ah 4-6.

Kerusakan alam yang ditimbulkan oleh manusia ini tidak terlepas dari rusaknya ilmu yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Inilah salah satu kekacauan yang diakibatkan oleh rusaknya konsep dasar tentang ilmu. Peradaban Barat telah membuang nilai-nilai agama terhadap ilmu pengetahuan. Ilmu, termasuk ilmu sosial dan ilmu alam, yang dahulu selalu dikaitkan dengan kekuasaan Allah, sekarang sudah tidak lagi. Ilmu seakan-akan berdiri sendiri. Tidak ada kaitannya dengan kekuasaan dan iradat Allah. Ilmu terutama ilmu-ilmu alam (natural science) dianggap memenuhi hukum sendiri yaitu hukum alam (natural law) yang berjalan secara mekanistis. God is a watch maker. Tuhan ibarat pembuat jam. Dia menciptakan alam rayaa ini seperti seseorang membuat jam. Setelah jam tercipta, jam berdetak sendiri tanpa campur tangan sang pembuat jam lagi sampai akhirnya jam itu mati. Perlunya kita kembalikan orientasi dasar ilmu dengan selalu mengaitkannya kepada Allah Swt. Sang Pencipta ilmu itu sendiri sebagaimana pendapat dari Syekh Prof. Al Attas

Post Author: adminNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *