EKONOMI SYARIAH : SOLUSI KRISIS PEREKONOMIAN DI INDONESIA?

Oleh : A’am Ar Rosyad

Dewasa ini, telah banyak terjadi krisis ekonomi di mana-mana seperti di Afrika Selatan, Argentina, bahkan Indonesia. Bicara tentang ekonomi, ilmu ekonomi adalah ilmu yang memelajari tentang bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Secara logika, ilmu ekonomi diciptakan untuk mengatasi kemiskinan yang ada di lingkungan masyarakat dari sebuah negara. Namun, kenyataannya ilmu ekonomi yang digunakan sekarang ini tidak dapat mengatasi masalah kemiskinan.

Sistem perekonomian yang digunakan saat ini adalah sistem ekonomi bangsa Amerika yang menggunakan sistem kapitalisme, dimana ilmu tersebut hanya mempelajari bagaimana cara mendapatkan profit dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memperdulikan aspek kemanusiaan, hal ini sangat bertentangan dengan sistem ekonomi sosialis yang pernah diterapkan sebelum digantikan oleh sistem ekonomi kapitalis yang diperkenalkan oleh Adam Smith atau dikenal sebagai “Bapak Kapitalisme Dunia”.

Sistem ekonomi kapitalis mengandung prinsip yang salah dimana sistem tersebut tidak mengenal kata “curang” dan hanya memperkaya orang kaya atau owner firm. Ekonomi konvensional memicu terjadinya kolonialisme moderen yang kemudian menjadi kapitalisme lalu menyebabkan terjadinya korupsi. Sistem yang salah melahirkan para koruptor. Pada hakikatnya, Bank Indonesia (BI) memiliki tugas untuk memperkuat mata uang Rupiah. Namun, ketika Rupiah menguat maka US Dollar akan melemah. Ketika US Dollar melemah, maka para spekulan akan berbondong-bondong membeli US Dollar. Seperti yang disebutkan dalam Teori Supply bahwa ketika permintaan naik, maka harga barang akan naik. Ketika permintaan US Dollar naik, maka nilai kurs US Dollar pun akan naik. Ketika kurs US Dollar naik, maka Rupiah akan kembali melemah. Dalam kasus ini, yang diuntungkan yaitu para spekulan dollar dan para pemilik modal yang bermain dalam dunia pasar modal. Sistem ekonomi seperti itulah yang menyebabkan terjadinya krisis ekonomi global setiap 5 tahun sekali. Penyebab krisis dunia ialah Bubble Economy yaitu 99% uang di dunia berputar secara ribawi. “Riba itu meskipun kelihatannya banyak, maka sesungguhnya akan berakhir menjadi sangat sedikit” (HR. Ahmad). Faktanya, uang yang berutar dalam sektor riil hanya 6T USD/ tahun, sedangkan pada sektor keuangan sebesar 1,5 T USD/ hari, itulah yang menyebabkan krisis ekonomi global yang berkelanjutan.

Apakah Ekonomi Syariah bisa menjadi solusi atas krisis ekonomi global? Jawabannya adalah “Iya”. Bahkan Gereja Vatikan mengatakan bahwa “Islamic Finance may help western banks in crisis” dalam situs web bloomberg.com. Urgensi Ekonomi Syariah bahkan terasa sampai ke Oxford University sehingga mereka mendirikan OIIBF (Oxford Institute of Islamic Banking and Finance). Fakta lain yang mencengangkan adalah bahwa pusat keuangan syariah berada di London, England yang mayoritas penduduknya beragama non muslim. Menurut survey Global Islamic Financial Report, posisi industri keuangan syariah Indonesia di dunia hanya menduduki posisi keempat dengan indeks 29% yang bahkan masih di bawah Malaysia dengan indeks 40%. Mengapa harus berhijrah ke Ekonomi Syariah? Karena Ekonomi Syariah adalah ilmu yang memelajari perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tujuan memeroleh falah (kebahagiaan dunia-akhirat), masalah utama ekonominya adalah kendala perputaran/ aliran sumber daya ekonomi (velocity), dan ukuran kesuksesan ekonominya adalah berbasis kolektif.

Tidak hanya krisis ekonomi global, sistem ekonomi konvensional juga memicu terjadinya krisis ekonomi di Indonesia yang salah satu faktor penyebabnya yakni kemiskinan. Kemiskinan masih menjadi faktor utama penyebab rendahnya indeks pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hal tersebut terjadi karena tidak meratanya pembagian sumber daya oleh pemerintah Indonesia yang menyebabkan beberapa daerah memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi sehingga memicu terjadinya krisis ekonomi. Salah satu solusi untuk menghadapi krisis ekonomi tersebut yaitu dengan menerapkan sistem ekonomi syariah dalam penyelenggaraan perekonomian di Indonesia. Ekonomi syariah merupakan sistem perekonomian yang dapat memajukan perekonomian di Indonesia karena sistem ini memiliki tujuan yang selaras dengan Program SDG’s (Sustainable Development Goals) yakni Maqashid Asy-Syari’ah. Maqashid As-Syari’ah memiliki lima poin meliputi, Hifdzuddin (melindungi agama), Hifdzu an-nafs (melindungi jiwa), Hifdzu al-aql (melindungi pikiran), Hifdzul maal (melindungi harta), Hifdzunnasab (melindungi keturunan). Oleh karena itu, sistem ekonomi syariah dapat memajukan perekonomian di Indonesia.

Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk memajukan perekonomian di Indonesia yaitu dengan mengoptimalkan zakat, terutama Zakat Maal. Zakat Maal diwajibkan bagi seseorang yang hartanya telah mencapai nisab dan memenuhi haul. Jumlah harta yang harus dibayarkan yakni sebesar 2,5% dari keseluruhan harta yang mengendap selama satu tahun. Di era Revolusi Industri 4.0 ini hampir semua pekerjaan manusia dilakukan melalui media digital karena lebih fleksibel, efektif, dan efisien. Pada era yang serba digital ini, tentunya Lembaga Keuangan Syari’ah (LKS) harus memiliki strategi yang sesuai dengan perkembangan teknologi guna mempertahankan eksistensi dan peningkatan layanan-layanannya terutama yang bergerak di bidang pengumpulan dan penyaluran dana zakat.

Saat ini, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) telah mempermudah proses penerimaan dan penyaluran zakat, infak, sedekah dari muzakki untuk mustahik yang membutuhkan dengan menyediakan platform pembayaran zakat melalui media digital. BAZNAS sudah memiliki banyak mitra dalam pengembangan zakat digital ini seperti, Shopee, Go-Bills, Bukalapak, Elevenia, Blibli, Lazada, dan masih banyak lagi. Hal tersebut dilakukan BAZNAS dalam upaya untuk semakin mempermudah akses para muzakki yang ingin membayarkan zakat maal-nya. Zakat Digital ini dapat diakses melalui perangkat mobile sehingga lebih fleksibel dan efisien.

Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia memperlihatkan trend positif, hal ini ditandai dengan meningkatnya indeks literasi keuangan syariah. Menurut Survei Nasional Literasi Keuangan yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan syariah di Indonesia meningkat dari 8,1% pada tahun 2016 menjadi 8,93% di tahun 2019. Peningkatan literasi keuangan sebesar 8,33% dan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan sebesar 8,39%. Meskipun angka peningkatan indeks literasi keuangan syariah belum signifikan, namun tidak menutup kemungkinan ekonomi syariah di Indonesia akan terus maju dan berkembang sehingga dapat menciptakan bangsa yang madani.

Sumber :
Bloomberg.com
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)
Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS)

Post Author: adminNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *