Feminisasi Al-Qur’an dan Hadits

adminNN

Oleh Siti Fatimah

Pengemasan feminisme secara apik dalam bahasa “perjuangan hak-hak perempuan” nyatanya telah membius sebagian umat Islam. Paham-paham feminisme di dunia Islam boleh jadi sudah dikenal sejak awal abad ke-20.  Terbukti atas pemikiran-pemikiran Aisyah Taymuriyah, penulis dan penyair Mesir;  Zaynab Fawwaz, esais Libanon;  Taj al-Salthanas dari Iran, Fatme Aliye dari Turki, kemudian Fatima Mermiss (Maroko), Dr. Nafis Sadik (Pakistan), Taslima Nasreen (Bangladesh), Amina Wadud Muhsin, dan juga beberapa tokoh dari Indonesia seperti Wardah Hafidz, Lies Marcoes, Nurul Agustina, Myra Diarsi dan lain-lain.  Dari kalangan kaum laki-laki juga ada yang mendukung feminism seperti Asghar Ali Engineer, Didin Syafruddin dan sebagainya.  Mereka semua adalah “perintis-perintis besar” dalam menumbuhkan kesadaran atas persoalan sensitif gender, termasuk dalam melawan budaya dan ideologi masyarakat yang hendak mengurung kebebasan perempuan.

Para feminis muslim ini mengusung gagasan kesetaraan gender yang dikaitkan ke dalam berbagai ranah ideologi dan diskursus keilmuan, termasuk tafsir Al-Qur`an. Mereka menuduh adanya kecenderungan misoginis (kebencian terhadap perempuan) dan patriarki (dominasi laki-laki) di dalam penafsiran teks-teks keagamaan klasik, sehingga menghasilkan tafsir-tafsir keagamaan yang bias kepentingan laki-laki.

Seorang tokoh Feminis yaitu Amina Wadud, ia mengatakan bahwa dalam penafsiran Al-Qur’an terdapat relativisme. Menurutnya, tidak ada metode tafsir Al-Qur’an yang benar-benar obyektif dan masing-masing ahli tafsir telah melakukan beberapa pilihan subjektif. Ia juga menyatakan bahwa untuk menjadikan Al-Qur’an senantiasa sesuai dan relevan dengan  perkembangan zaman, maka Al-Qur’an harus (ditafsirulang) secara terus menerus. Teksnya dibiarkan tetap, tetapi maknanya terus-menerus diperbaharui, seperti dalam tradisi pembacaan Bibel. Hal ini dilatarbelakangi pemikirannya yang meyakini teks Al-Qur’an hanyalah symbol belaka dan kalimat-kalimat yang dzaniyyat (samar-samar maknanya) sehingga diyakini adanya peluang untuk melakukan pemaknaan secara kreatif. Amina Wadud berusaha membongkar cara menafsirkan Al-Qur’an “model klasik” yang dinilainya menghasilkan tafsir yang bias gender. Ia tidak menolak Al-Qur’an, tapi membongkar metode klasik dan menggantinya dengan metode tafsir gaya baru yang dia beri nama “hermeneutika tauhid”. Maka proyek besar yang dilakukan adalah proyek mentafsirkan ulang teks-teks Al-Qur’an dan Hadits. Proyek reinterpretasi ini dilakukan dengan cara memasukkan teks Al-Quran dan Hadits ke dalam ruang social dan ruang wacana gender. Sehingga, bisa disebut proyek itu adalah feminisasi Al-Quran dan Hadits.

Hermeneutika menghendaki pelakunya untuk menganut relativisme epistemologis karena tidak ada tafsir yang mutlak benar, semuanya relatif. Yang benar menurut seseorang, boleh jadi salah menurut orang lain. Kebenaran terikat dan bergantung pada konteks (zaman dan tempat) tertentu. Selain mengaburkan dan menolak kebenaran, paham ini juga akan melahirkan mufasir-mufasir palsu dan pemikir-pemikir yang tidak terkendali.

Metode hermeneutika tauhid Amina Wadud merupakan jiplakan dari metode sejenis dalam tradisi Bible di kalangan kaum feminis Kristen. Penggunaan metode yang serupa ini tidaklah patut digunakan karena terdapat perbedaan sifat antara teks Al-Qur’an dan teks Bible. Kemudian validitas dan kebenaran konsep “gender equality” itu sendiri. Adapun perbedaan sifat teks Al-Qur’an dan Bible, bahwa dalam keyakinan kaum Muslim, Al-Qur’an itu lafadz dan maknanya adalah wahyu dari Allah. Tidak ada campur tangan manusia termasuk Nabi sehingga tidak ada kontekstualisasi. Berbeda dengan Al-Qur’an, Bible ditulis oleh para penulis Bible yang menurut konsep Kristen mendapat inspirasi dari Tuhan. Meskipun demikian, diakui bahwa unsur-unsur personal dan budaya berpengaruh terhadap para penulis Bible. Karena dianggap merupakan wahyu Tuhan adalah makna dan inspirasi dalam Bible dan bukan teks Bible itu sendiri, maka kaum Kristen tetap menganggap terjemahan Bible dalam Bahasa apapun adalah firman Tuhan. Sehingga dalam tradisi penafsiran Bibel, Sebagian teolog melakukan kontekstualisasi yang ekstrim. Dengan pendekatan kontekstualisasi, makna ayat tersebut bisa berubah total. Harusnya feminis membangun kerangka “berpikir” dari “worldview Islam” bukan worldview non Islam karena dapat mengakibatkan timbulnya maknabaru yang bertentangan dengan makna sebenarnya dari nash-nash Al-Qur’an dan Hadits.

Berkenaan dengan konsep “gender equality” yang dijadikan standar berpikir dalam menafsirkan teks Al-Qur’an oleh para feminis, maka akan terjadi perombokan hukum Islam secara besar-besaran. Gerakan yang disebut feminism muslim sesungguhnya tidak menjadikan Islam sebagai pandangan hidupnya. Maka, fiqih Islam digunakan untuk dibongkar (didekonstruksi). Asas perjuangan dan pemikiran mereka tidak lain kelanjutan dari Gerakan feminisme Barat, dimana Gerakan feminisme Barat diterima sebagai wadah untuk memperjuangkan kepentingan feminisme Muslim.

Apabila teks Al-Qur’an dikontekstualisasikan, maka hal tersebut berarti  memasukkan teks suci ke dalam ruang budaya. Tindakan semacam ini sama sajadengan ‘melempar’ agama  menjadi produk budaya. Padahal dalam ajaran Islam, budaya harus disesuaikan dengan nilai dan ajaran agama,  bukan sebaliknya. Jadi, produk-produk pemikirannya tentang tafsir tidak memenuhi standar keilmuan tradisi Islam. Berarti kajiannya di bawah standar ilmiah.

Perlu diperhatikan untuk menjadi muffasir diperlukan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh mufassir baik dari aspek mental (kepribadian) maupun dari kapasitas keilmuan. Syarat mental mufassir yang diakui universal yaitu aqidah yang benar, bersih dari hawa nafsu, niat baik dan tujuan yang benar, taat dan mengamalkan ilmunya, berpegang teguh pada sunnah, dan mengerahkan tenaga untuk belajar atau membekali diri dengan ilmu.  Kualitas diri secara intelektual akan menentukan ketajaman hasil penafsiran. Disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mufassir sebelum menafsirkan Al-Qur’an yaitu Ilmu bahasa Arab, Ulum Al-Qur’an, Ilmu Kalam, Ilmu Hadits, dan Ilmu Al-Muhibah.

Persoalan ini menyangkut kepercayaan terhadap konsep kesakralan Al-Qur’an. Pemikiran bahwa nash Al-Qur’an symbol kosong adalah adopsi dari teori dekonstruksi. Kalimat dzanni dalam Al-Qur’an pun bukan berarti setiap orang bisa menafsirkan namun ada kaidah penafsiran yang diajarkan Rasulullah Shalallahu ‘alai wasallam. Di sinilah tempat ijtihad para fuqaha (ahli fikih) dan mufassirin (ulama ahli tafsir) yaitu mereka yang memiliki otoritas dan bukan sembarang muslim.

Referensi:

Hakim, Lukman. Mis-Interpretasi Ayat Kepemimpinan Laki-Laki Atas Perempuan (Respon Feminisme Terhadap Qawwâmah). Jurnal Studi Quranika, Vol. 1, No. 2 Januari 2017.

Hasib, Kholili. Pembacaan Kritis Terhadap Pemikiran Feminisme Amina Wadud & Fathima Mernissi. Kajian KOFI Level 2 pada2020.

Masrur, Imam. Telaah Kritis Syarat Mufassir Abad ke-21. QOF, Volume 2 Nomor 2 Juli 2018.

Muslikhati, Siti. Feminis medan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam. Jakarta: Gema Insani. 2004.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Akar Pemikiran Feminis

Oleh: Faizah Azhari Akhir-akhir ini berbagai aktivitas dilakukan untuk mengampanyekan penghapusan kekerasan seksual. Aktivitas tersebut sangat bervariasi, mulai dari acara nonton film bersama, seminar, pengumpulan tanda tangan di kampus, mall, serta media sosial, sampai agenda yang bersifat serius, yaitu pengajuan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS). Kampanye tersebut digalakkan […]

Subscribe US Now

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial