HUBUNGAN KITA

Oleh: Aditya Mulya Poetra

PEMERAN

  1. AKU: DIRIKU
  2. KAMU: ISLAM

Hari ini aku berpikir tentang hubungan kita, kamu begitu dicintai dan begitu pula dibenci. Aku bertanya padamu, “Apa alasannya mereka membencimu?” Lalu aku bertanya sekali lagi, “Apa alasannya mereka mencintaimu?” Kamu mulai menarik nafas, “Apakah ada alasan untuk tidak mencintaiku?” Lalu sekali lagi aku bertanya, “Apakah tidak boleh ada alasan untuk tidak mencintaimu?” Kamu mulai menghela nafas dan berkata, “Mari akhiri perdebatan ini. Sekarang giliranku bertanya, dimana posisimu saat aku sedang dalam masalah?”

Aku terdiam dengan pertanyaanmu tentang posisiku terhadapmu. Apakah aku berada di depan yang selalu membelamu, atau di tengah yang selalu mendukungmu. Sayangnya, aku adalah yang selalu dibelakang, aku diam dan aku mempelajari alasan mereka terlalu mencintai dan mereka lainnya yang membencimu. Kamu bertanya, “Apa alasan mereka membenciku?” Mengapa tidak kita mulai dari alasan kenapa mereka ‘terlalu’ mencintaimu?

Aku senang kamu dicintai, begitupun aku mencintaimu. Mereka percaya bahwa kau adalah yang terbaik, begitupun juga menurutku. Mereka yakin jika kamu benar, ya aku tidak berpikir kamu salah. Lalu kamu bertanya, “Apa salahnya semua itu?” Tidak, tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar juga. Kamu yang langsung mengerti jawabanku langsung tersenyum. “Benar atau salah semuanya tergantung dari masing-masing orang. Jika kamu mengatakan sesuatu kepada orang yang tidak mempercayaimu, dia hanya akan menganggapmu bicara omong kosong.” Aku senang kamu mengerti, begitupula dengan cinta, orang yang cinta terhadap sesuatu akan tentram jika ada itu. Dan mereka merasa tentram karenamu.

“Lalu alasan mereka membenciku karena tidak mencintaiku?” Tidak, mereka bukannya tidak mencintaimu, tetapi belum mencintaimu. Kamu mulai pusing dengan semua maksudku. Aku pun juga pusing dengan kata-kataku sendiri. Cinta itu bagaikan dua sisi koin, sisi pertama akan mencintamu dengan ikhlas dan meminta agar orang lain mencintaimu meski orang tersebut tidak mengungkapkannya. Sedangkan sisi kedua akan mencintaimu juga dan meminta orang lain untuk mencintaimu sepenuh hatinya.

Aku juga akan menjelaskan bahwa orang yang membencimu jga seperti koin, sisi pertama karena mereka belum mengenalmu, sisi kedua karena mereka dipaksa untuk mencintaimu. Bagi orang yang belum mengenalmu, mereka akan menilai kamu dari orang-orang yang mencintaimu, dan jika orang yang mencintaimu itu berbuat suatu kesalahan maka kamu adalah pusat dari kesalahan itu. Sisi yang kedua mungkin pernah mencintaimu atau akan mencintaimu,mereka tidak ikhlas mencintaimu dan mengharapkan timbal balik dari cintanya padamu.

Kemudian antara benci dan cinta semakin kompleks, kamu tidak akan tahu mana orang yang membelamu karena mencintaimu atau orang yang membelamu karena menginkan sesuatu. Kalau kamu berrtanya padaku, apakah aku membenci kamu? Jawabannya aku mencintaimu dan aku membenci beberapa orang yang mencintaimu. Lantas kamu bertanya lagi, “Apa maksudmu?”

Aku mencintaimu sungguh, meski aku sering sekali kepayahan dalam mencintaimu, aku tetaplah mencintaimu dan berusaha keras untuk itu. Tetapi aku juga tidak menyukai beberapa orang yang mencintaimu, kamu berkata bahwa ‘janganlah berlebihan’ tetapi sayangnya mereka terlalu sangat mencintaimu dan membuat namamu menjadi semakin buruk. Bukankah kamu datang untuk membawa kedamaian? Lalu mengapa orang-orang yang mencintaimu malah berbuat kerusakan? Menurutku ada yang salah tentang definisi cinta mereka. Tetapi aku hanyalah kelompok pengikut saja, ini bukan salahku, kan?

Lalu kamu selalu mengedepankan ‘asas toleransi’ lalu mereka yang mencintaimu merasa menjadi mayoritas dan berbuat seenaknya saja terhadap minoritas yang belum mencintaimu. Lalu anehnya, mereka benar-benar membela minoritas yang mencintaimu di negara lain dan membuat perlawanan terhadap para mayoritas yang mengganggu saudara mereka. Bukannya itu sama saja bagi para minoritas yang tidak mencintaimu di daerah sini pasti endapat perhatian dari mayoritas di tempat lain. Padahal kamu banyak membacakan kisah tentang persatuan dan toleransi.

Jika kamu menganggap aku membela orang yang membencimu, kamu salah dan benar. Salah karena aku tetaplah mencintaimu, bahkan jika aku mengatakan mereka membencimu, mereka tidaklah membencimu. Mungkin saja mereka tertarik padamu lalu melihat ada yang salah membuat mereka membencimu, ada juga yang bersikap biasa saja, tetapi ada yang membuat sikap biasa ini menjadi tidak biasa. Namun, ada juga yang sangat membencimu, entah apa yang terjadi pada dirinya di masa lalu, ku harap engkau bersabar, karena orang-orang yang mencintaimu akan membelamu dengan sebaik-baiknya tanpa ada perkataan atau tindakan yang memperburuk namamu.

Tenang saja, ini bukanlah salahmu. Kamu hanyalah sebuah nama dari salah satu keyakinan di dunia. aku percaya bahwa makin banyak orang yang mencintaimu dengan perkataan dan perbuatan yang baik dan benar. Aku juga berharap semakin belajar tentangmu dan lebih memahamimu. Aku juga berharap orang-orang yang mencintaimu tidak terlalu berlebihan dalam mencintaimu. Aku juga berharap orang-orang yang membencimu tidak membencimu lagi, meski mereka tidak mengungkapkannya, mereka pasti memiliki rasa suka padamu.

Aku tahu kamu bukanlah musuh, aku tahu kamu selalu mengajarkan kebaikan. Jadi buktikanlah kejayaanmu meski banyak yang menghinamu, aku dan orang-orang yang mencintaimu juga akan mengambil peran kami masing-masing. Jadi tetaplah berdiri tegak dan percaya pada para pewarismu ini.

Post Author: adminNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *