“Ibu, Seragam Basah, dan Mengaji”

Oleh: Aulia Nurmasithoh

Malam telah membisu, mengantarkanku pada kenangan lalu… ya…awal dari kisah hijrahku. Tatkala itu, aku tersenyum haru, mengingat betapa besar cinta ibuku dan hebatnya dalam mengakali seragam basah-ku. Saat itu, aku masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar.


“Dek… ini seragam kamu masih basah, adanya seragam lengan panjang sama roknya nih, dipake dulu ya?”
“Yaudah deh, ma.”
“Kan seragamnya lengan panjang, roknya juga panjang, pake kerudung sekalian ya?”
“Tapi kan gerah ma…”
“Tapi aneh loh, kalo pake seragam yang panjang tapi ga pake kerudung, pake ya?”
“Iya deh, iya..” (turutku sedikit merajuk)


Senin itu adalah pertama kalinya aku memakai kerudung ke sekolah selain hari Jumat. Dan selama seminggu kedepan, aku pun terus memakai kerudung ke sekolah. Sampai akhirnya aku yang masih bocah kecil itu merasa heran “kok seragam aku yang biasanya ga kering-kering ya?” pikirku. Lantas akupun bertanya pada mama.
“Ma, seragam aku yang biasanya kemana? Aku gerah nih pake kerudung terus ke sekolah.”
“Loh, kan adek udah seminggu pake kerudung, masa mau dilepas lagi, kan sayang.”
“Tapi gerah ma..”
“Sabar ya dek, nanti juga biasa kok, tetep dipakai ya kerudungnya?”
“Hmmm..”


Semenjak itu, aku tak pernah lagi bertanya ataupun mengeluh. Tanpa sadar aku mulai terbiasa memakai kerudung, walaupun hanya saat di sekolah. Di rumah aku masih bermain dengan baju seperti biasa. Namun ketika ke sekolah, mulai timbul rasa “malu” dalam diriku, malu kalau ada yang melihatku tidak berkerudung di sekolah. Bahkan ketika rambutku terlihat keluar dari kerudung, aku akan sangat malu dan merapikan kerudungku. Hal itu bertahan hingga aku naik ke kelas 6. Ibuku mulai mengajakku untuk ikut “mengaji” di kajian remaja yang diadakan oleh majelis ta’limnya. Aku terus menjawab nanti, toh aku sudah mengaji di TPQ (kala itu aku belum tahu bahwa, “mengaji” yang dimaksud ibuku dengan mengaji yang ku tahu… berbeda).

Mungkin sudah tiga kali ibuku mengajak ke kajian itu, tapi aku terus mengelak dan akhirnya berjanji saat SMP nanti aku akan ikut. Setelah itu, ibu tidak pernah membahas topik itu lagi.


Lalu akupun lulus SD dan memasuki dunia SMP. Saat itu rasa maluku telah menjalar pada kehidupan sehari-hari. Terkadang kalau pergi main bersama teman-teman, aku akan memakai baju, celana panjang dan memakai kerudung walau masih ala kadarnya. Saat itupun aku baru sadar, bahwa selama ini kerudung yang ibuku pakai, semakin hari semakin memanjang. Tapi aku terlalu cuek untuk bertanya.

Kehidupan kelas 1 SMP-ku pun berlalu begitu saja. Lalu berlanjut ke kelas 2 yang masih biasa saja. Hingga suatu hari ibu menagih janjiku. Aku tak bisa mengelak lagi, karena kau sudah berjanji akan ikut mengaji ketika SMP. Itupun harusnya saat kelas 1, tapi ibu tidak pernah menyinggungnya.


Hari itu, Sabtu malam aku dan teman masa kecilku diantar ibu ke sebuah rumah dengan motor. Saat itu aku memakai, kaos lengan panjang bergaris ungu, celana jeans hitam panjang dan kerudung tipis segitiga yang kedua sisi bawahnya kusingkap ke pundakku . Tibalah kami di rumah itu. Baru saja membuka pintu, aku sudah tercengang melihat perempuan-perempuan berjumlah sekitar 6 orang, berkerudung segitiga panjang, tebal, menutupi dada dan semuanya memakai rok dan gamis. Mereka semua tersenyum ramah menyambutku. Sedangkan aku? Aku malu setengah mati!! Langsung kuturunkan singkapan kerudungku dan sebisa mungkin kerudung itu menutupi dadaku. Akupun duduk diposisi paling ujung, bersembunyi diantara perempuan-perempuan itu. Semua orang duduk dilantai dengan posisi duduk sila. Ada laki-laki juga di sana jumlahnya lebih sedikit, yaitu 3 orang. Kami duduk melingkar tetapi diberi jarak yang cukup jauh antara laki-laki dan perempuan.


Tak lama ustadz pun datang, aku kembali tercengang. Ustadz itu memakai baju koko yang panjang sampai ke lutut, celana cingkrang dan berjenggot tebal. Aku semakin menunduk karena malu. Namun entah mengapa, aku merasa nyaman disana. Kakak –kakak perempuan itu sangat ramah padaku, mereka memperlihatkan catatan mereka sebelumnya dan memberitahuku beberapa hal tentang Islam yang belum pernah kuketahui sebelumnya.


Materi pun dimulai, ustadz membawakan materi tentang “Tauhid : Laa Ilaha Illallah”. Ustadz menjelaskan tentang apa itu tauhid, pembagian tauhid yaitu uluhiyyah dan rububiyyah, dan pentingnya mendalami tauhid bagi seorang muslim. Aku mendengarkan materi dengan seksama, karena semua itu adalah hal baru bagiku. Kucatatan poin-poin penting yang bisa kutangkap dari penjelasan ustadz tersebut. Dan tibalah sesi tanya jawab, saat itulah aku kena “sentilan” ustadz.
“Ini mba, anaknya ibu Seti ya?”
“Iya ustadz.”
“Mba tau hukumnya menutup aurat?”
“Tau ustadz.”
“Nah tapi dalam menutup aurat pun ada syarat-syaratnya, pertama tidak boleh tipis, lalu pakaiannya tidak boleh ketat dan kalau bisa, karena mba ini perempuan, pakai rok atau gamis”
“Hehe…iya ustadz.” (Jawabku sembari meringis menahan malu)
“Nda papa, kan namanya baru belajar, diubah pelan-pelan ya mba?”
“Iya ustadz… Insyaa Allah”


Jam menunjukkan pukul 22.00, kajian pun disudahi dan kami pulang ke rumah masing-masing. Ibuku sudah menjemput dan menunggu di teras rumah. Sesampainya, aku langsung meminta dibelikan rok pada ibuku.
“Ma..beliin aku rok yaa?”
“Iya” (Jawab ibuku dengan senyuman lebar terukir di wajahnya)
Akhirnya aku paham, maksud dari “mengaji” yang sesungguhnya.

Semenjak hari itu, aku mulai berkenalan dengan Islam. Banyak sekali yang baru kutemukan, hal-hal tentang Islam yang membuat hatiku bergetar dan membuatku merasa semakin dekat dengan Allah Ta’ala.


Kini ketika teringat kembali tentang hari itu, betapa banyak yang harus kusyukuri. Tentang cinta ibuku dan caranya memperkenalkanku pada Islam, tentang taktiknya mengakali seragam basah dan tentang caranya menarik ulur ajakan mengaji hingga akhirnya aku menurut. Juga rasa syukur terbesarku, cinta Allah padaku, Allah membuka hatiku sehingga aku dengan mudahnya menerima semua itu, menuruti apa yang diminta dariku, tanpa banyak menolak ataupun mengeluh. Aku pun mendapatkan sahabat-sahabat baru yang dengan senang hati menemani dan menyemangatiku untuk berubah menjadi lebih baik. Dan karena ibu, akupun mulai paham betapa besar peran seorang “Ibu” sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya…

Post Author: adminNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *