Insecure? Yuk Ubah Jadi Bersyukur

adminNN
Oleh: Nadya Zahra

“Wah, keren ya kamu. Kok jago banget sih, bikin gambarnya.”

“Bagus banget tulisannya. Aku mah apa atuh, remahan rengginang doang.”

“Kamu lebih keren …”

“Kamu.”

“Enggak, kamu yang lebih keren!”

Kalau diteruskan, percakapan macam ini nggak akan ketemu ujungnya, hehe.

Sobat Muslim, adakah di antara kalian yang sering seperti ini juga? Maksud diri ingin berusaha rendah hati, eh jatuhnya kok malah cenderung insecure, ya? Omong-omong, insecure itu apa, sih?

Generasi muda kita sepertinya sudah tak asing lagi ya dengan istilah satu ini. Merujuk pada Cambridge Dictionary, orang yang insecure adalah mereka yang merasa kurang percaya diri  dan meragukan kemampuan mereka sendiri. Ia juga bisa dikatakan sebagai perasaan inferior atau merasa kurang dibandingkan orang lain, baik pada saat kita merasa malu, bersalah, kekurangan, atau tidak mampu melakukan sesuatu. Perasaan ini jika dibiarkan berlarut-larut, akan menimbulkan krisis kepercayaan diri, bahkan kecenderungan untuk menghindari interaksi dengan orang lain.

Gimana sih, ciri-ciri orang insecure?

Sebelum melabeli diri sendiri atau orang di sekitar dengan predikat insecure, baiknya kita cek dulu keberadaan tanda-tanda berikut. Apa saja, sih?

Pertama, mudah tersinggung. Tak ada angin tak ada hujan, kita merasa bahwa orang-orang yang bercakap di sebelah tengah membicarakan keburukan kita. Loh, ge-er amat, ya? Padahal belum tentu yang mereka bicarakan itu kita, lho.

Kedua, tidak percaya diri dan memandang diri sendiri rendah. Ada standarisasi tertentu yang dibuat seseorang untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Padahal, bukankah Allah ciptakan masing-masing dari kita mempunyai keunikan tersendiri?

Ketiga, ada yang sebenarnya cukup ekstrim. Pada kasus ini, sang individu justru mencari perhatian dengan cara merendahkan orang lain. Tujuannya? Agar mereka tampak tak kalah hebat dan punya sesuatu untuk dipandang. Motivasi utamanya ya sih, karena rasa iri hati atas kelebihan lawannya.

Wajar nggak sih, merasa insecure?

Menurut hemat penulis, wajar saja. Bahkan penulis sendiri pun merupakan salah satu “pengidap akut” penyakit ini. Namun, apakah hal tersebut mau dibiarkan berlarut-larut? Tidak, bukan? Kalau begitu, simak yang satu ini sampai selesai, ya!

Sudah jadi tabiat manusia untuk senantiasa membandingkan maupun mengaitkan satu dengan lain hal. Akan tetapi dalam kasus tertentu, jika kita melakukannya dengan ekstrim, tentunya dampaknya takkan baik. Namun, sobat, bersyukurlah sebab kita terlahir sebagai seorang Muslim, dimana agama mulia yang kita anut mengajarkan kita untuk tidak merasa lemah di hadapan manusia.

Dalam Islam, ketundukan kita selaku makhluk mutlak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, lalu ke pada Rasul-Nya, dan Kitab-Nya. Tak apalah kita merasa lemah di hadapan-Nya, sebab sejatinya kita memang tak berdaya tanpa kekuatan dan pertolongan-Nya. Akan tetapi, jangan sekali-kali merasa rendah diri di hadapan manusia, ya. Rendah diri dan merasa kuranglah dalam hal beribadah karena justru hal itulah yang membuat kita selalu ingin merasa dekat dengan Allah.

Jika perasaan rendah dirimu mulai kambuh, coba deh, ingat ayat berikut:

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.” (QS Ali Imran : 139)

Dalam Balutan Syukur, Dengan Spirit Qana’ah

Segala puji bagi Allah, tidaklah Dia ciptakan suatu apapun dalam kesia-siaan. Tidakkah hal terebut lantas mengundang kesyukuran kita selaku hamba-Nya? Bahkan Baginda Rasul sekalipun dengan jaminan surga dalam genggamannya, tak lantas menjadikan beliau enggan beribadah. Tak lain tak bukan, yang demikian adalah sebagai tanda syukur kepada Sang Pencipta alam semesta. Oleh karena itu, terlepas dari segala kekurangan kita, mari renungkan betapa banyak nikmat-Nya pada kita.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim: 7)

Satu lagi perasaan yang hendaknya kita pelihara dalam diri, yakni qana’ah. Cukuplah kita atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan. Jadilah kita seorang yang kaya hati, yang takkan melanggar rambu-rambu ketetapannya demi hal-hal yang masih mampu kita tangguhkan. Bukankah lebih nikmat, hidup dengan perasaan qana’ah? Hidup yang tenang, tentram, dan damai dalam ketaatan.

Akan tetapi, perlu dicatat bahwa qana’ah tidak sama dengan masa bodoh atau malas dalam berusaha. Qana’ah bermakna merasa cukup atas apa yang dimiliki sebagai hasil dari upaya dan kerja keras, bukan hanya berpangku tangan belaka.

“Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan diberikan oleh Allah sikap qana’ah (rasa cukup) terhadap pemberian-Nya.’” (HR. Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Coba, kawan, alih-alih terlampau sering membandingkan diri kita dengan tolak ukur keberhasilan orang lain, yuk coba ciptakan kesuksesan versi kita sendiri. Cari tahu what we are good at. Kalau kita senang menulis, coba deh tekuni hobi itu. Semisal kita kira-kira punya “bakat terpendam” dalam bidang seni, coba pula kembangkan itu. Kalau jelek gimana? Ya, nggak gimana-gimana. Coba saja terus. Boleh saja jadikan orang yang lebih ahli sebagai role model kita, namun jangan terlalu terpaku dengan standar mereka. Toh boleh jadi, pencapaian mereka yang sedemikian itu bukanlah hasil yang instan. Jangan semerta-merta membandingkan diri kita dengan mereka, ya.

Tak lupa, ajak pula orang-orang terdekat untuk turut memberi kritik dan saran yang membangun bagi karya kita atau perkembangan kepribadian kita. Intinya, surround ourselves with positive-minded people. Last but not least, tetap gantungkan segala harap pada-Nya. Mohonlah agar Allah senantiasa menjaga hati kita dari perasaan insecure yang sewaktu-waktu dapat kembali kambuh. Semangat!

Referensi:

Aqidah Akhlaq. (n.d.). PT Grafindo Media Pratama.

https://dictionary.cambridge.org/

https://www.kompas.tv/article/79520/kalam-hati-merubah-insecure-jadi-bersyukur-bagian-1

https://suaramuslim.net/yuk-cek-apakah-kamu-sedang-merasa-insecure-atau-tidak/https://urfa-qurrota-ainy.tumblr.com/post/168849501051/jangan-merasa-lemah-di-hadapan-manusia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

KENAPA HARUS MENGHAFAL AL-QUR'AN

Dari kecil, saya tumbuh di tengah keluarga penghafal Qur’an. Bukan, bukan karena ayah dan ibu seorang penghafal Qur’an. Bahkan, mereka masih terbata-bata mengeja ayat demi ayat. Kondisi itu tumbuh karena penyesalan yang terlewat menjadi impian berharap sebab kebaikan di akhirat. Satu demi per satu sang anak di sekolahkan, diantar ke […]

Subscribe US Now

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial