KEHADIRAN

adminNN
0 0
Read Time:3 Minute, 35 Second

Oleh: Farah Fadhilah


Matahari mulai menumpahkan rona jingganya berpadu dengan langit yang mulai menghitam. Senja. Selalu punya cara tersendiri, menyihir siapapun yang melihatnya.

Ku berhenti sejenak menatap indahnya senja, “Ah aku harus segera bergegas cepat” sadar ku yang terpesona menatap senja. Hari ini, aku memutuskan untuk pulang. Setelah hampir sepekan beraktivitas di kampus.

“Terima kasing bang..” kepada abang ojol yang telah mengantarkan ke stasiun.
“Neng helmnya” mengingatkan aku yang mulai melangkah masuk stasiun, lagi lagi aku lupa melepas helm punya abang ojol.
“Oh iya bang, maaf lupa” aku menyengir malu, segera ku lepas helm yang masih melekat di kepala.

Ku melanjutkan langkah kaki menaiki anak tangga menuju stasiun klender, tanpa sadar memori ku memutar peristiwa peristiwa ketika lupa mengembalikan helm, seperti di stasiun jatinegara dan stasiun Cirebon, saat itu abang ojolnya juga lupa. “Alhamdulillah yang ini abangnya inget” ujarku dalam hati

Diriku menepi ke mushola di dalam stasiun, karena sudah terdengar adzan maghrib sejak tadi. Entah kenapa ketika menuju tempat wudhu aku merasa agak risih, dan benar saja saat mau wudhu banyak orang yang lewat, tetapi tidak bisa disalahkan karena musholah di stasiun kecil memang ala kadarnya, dari diri sendiri yang harus kreatif agar tetap terjaga. “gapapa, demi solat magribnya ga telat, lagipula kereta tujuan cikarang masih lama” besitku.

Lampu lampu mulai bertaburan ikut menghiasi suasana malam di Ibukota, jalanan utama sedikit macet mungkin para pekerja yang tinggal di kota sebelah mulai kembali pulang setelah berjuang untuk menghidupkan diri juga keluarga.

“kereta tujuan akhir Stasiun Bekasi berangkat Stasiun Jatinegara, kereta tujuan akhir Stasiun Cikarang belum tersedia di Stasiun Jakarta kota”

Ku melirik jam tangan masih pukul 18.45, padahal menurut jadwal di aplikasi online kereta cikarang sudah berada di stasiun Jakarta Kota “Sepertinya telat lagi, mungkin naik yang kearah bekasi dulu” dalam pikiranku.

Tidak lama kemudian kereta akhir stasiun bekasi berhenti di hadapanku, tetapi penumpangnya bagaikan sarden di dalam kaleng yang penuh dan sesak, aku memilih untuk membiarkannya berlalu

Aku memilih duduk di bawah tiang tiang sambil asik bermain Smartphone, membaca komik online (Webtoon) salah satu kebiasaan ketika di stasiun atau di dalam kereta.

15 menit kemudian

“kereta tujuan akhir Stasiun Bekasi berangkat stasiun manggarai, kereta tujuan akhir Stasiun Cikarang tersedia di Stasiun Jakarta kota”

Lagi lagi ku lirik jam tangan yang melekat di tangan kiri 19.15. “ hmm kali ini harus bener bener naik kereta yang ke bekasi aja” pikiran ku yang mulai lelah

Pukul 19.20  “kereta tujuan akhir Stasiun Bekasi di persiapkan masuk pada peron dua”

Aku segera bergegas berdiri mendekati batas garis kuning di peron dua, kereta mulai memasuki peron dua dan aku bisa menyaksikan penumpang yang masih cukup penuh di dalam “aku tetap harus masuk, Bismillah” tekad ku, karena akan semakin parah jika naik kereta tujuan akhir Stasiun Cikarang dari sini.

Penuh, sesak, tak bisa bergerak, mungkin ini yang sekarang aku alami di dalam kereta. Aku mulai mendapatkan tempat  duduk ketika di Stasiun Cakung atau Stasiun Kranji tetapi kenyataannya aku tetap berdiri sampai di Stasiun Bekasi.

Aku kembali menunggu Kereta tujuan akhir Stasiun Cikarang di sini, ternyata banyak penumpang lain yang juga sedang menunggu kehadiran kereta itu. Aku melihat papan tanda informasi posisi kereta dan jam kedatanganya, dan ternyata akan ada 2 kereta tujuan Cikarang, saat itu aku tetap optimis untuk tetap naik kereta keberangkatan pertama.

Pukul 19.50 kereta tujuan akhir Stasiun Cikarang sampai di peron dua dengan keadaan penumpang di luar yang begitu padat dan penumpang yang di dalam penuh sesak akan segera keluar,
aku memilih kereta selanjutnya karena sudah merasa ga kuat untuk berdiri lama dan berdesakan.

Kereta selanjutnya pukul 20.10, yang artinya aku harus bersabar menunggu lagi tetapi menjadi sedikit beruntung  karena bisa duduk di kursi tunggu yang ada di setiap peron “ Alhamdulillah bisa duduk sebentar”

Kereta yang dinanti datang dan Alhamdulillah penumpangnya tidak sepenuh kereta sebelumnya, “ Apakah ini yang dinamakan buah dari kesabaran?” aku langsung memilih duduk di sudut kursi panjang kereta agar bisa bersandar dan memejamkan mata.

Dalam keadaan mata terpejam, aku mencoba mengambil hikmah dari setiap peristiwa pulang kali ini. Sebenarnya setiap ingin pulang terbesit rasa malas karena lelah berdesak desakan di rumah, tetapi aku tau kehadiranku di rumah di nantikan maka berjuang lah sedikit untuk membuat orang tua tersenyum karena hadirku.

Karena bahagia bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang mereka yang selalu ada untuk diri ini.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

KECEWA

Oleh: Awaliyatun Khasanah Kecewa itu ya yang buat diri ini sendiri. Menaruh harapan ke manusia emang gitu resikonyaYaudah gapapa, rasain aja. Kalau gak mau, ya kurangin ekspektasi nyaKurangin berharap nyaBukan, bukan gak boleh berharapToh itu manusiawi kan? Tapi kalau bisa ya jangan terlaluPikirin pahit nya juga. Coba deh yuk berharap […]

Subscribe US Now

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial