KEKUATAN RINDU

adminNN

Oleh: Indah Karunia

Hari ini langit tetap cantik seperti biasa, ditambah gumpalan putih yang menyebar tak beraturan bak Istana kapas yang megah. Langkahku gontai menyusuri jalan setapak di salah satu jalanan ibukota. Masih terngiang bagaimana kegagalan yang terus menghantui, membuatku tak ingin memaafkan dan menerima diriku sendiri. “Kenapa bisa?” , “ Apasih yang kamu lakuin?” , “Dasar payah” beragam kata yang rasanya belum puas menyalahkan diriku sendiri, membuatku semakin sakit dan jatuh sendiri. Aneh, tapi biar saja. Biar jera, pikirku.

Aku berhenti pada sebuah jembatan yang terbuat dari besi dengan cat berwarna abu- abu. Melihat ke bawah memperhatikan lalu Lalang kendaraan. Tidak ada yang benar benar ingin kulihat. Hanya menghabiskan waktu, tak ingin bertemu siapapun yang mengenalku. Tiba tiba pikirku liar, membawaku pada sebuah cerita jaman dulu sekali. Saat itu Islam baru saja lahir di sebuah tempat tandus dan gersang dengan penduduk yang terbelakang, mereka membuat banyak sesembahan yang bisa mereka sembah dan mereka ajukan keinginan. Sesembahan yang beragam, mulai dari hewan, patung, hingga roti yang bisa mereka makan ketika mereka lapar. Mereka mengubur setiap bayi wanita hidup-hidup, sekaligus memadamkan rasa kemanusiaan mereka.

Disana, di negeri yang penuh kebodohan itu, ada seorang manusia terpuji yang begitu disegani oleh masyarakat negeri itu. Keturunan orang terpandang. Manusia itu berlindung dari segala belenggu kebodohan, berdiam diri di sebuah gua hingga kalimat kalimat langit Allah turunkan padanya melalui perantara salah satu penduduk langit. Sejak saat itu hidupnya berubah. Dulu setiap orang begitu memercayainya, tapi sejak saat itu tak sedikit orang orang yang mencacinya, menganggap gila, bahkan ingin membunuhnya. Namun, ia tetap bertahan menegakkan kalimat Allah di negeri Jahil itu. Benar saja, Allah pilihkan pejuang pejuang terbaik untuk menguatkan langkahnya. Pejuang pejuang yang resah hatinya dari segala kebodohan yang merajalela di negeri itu. Penghambaan terhadap nenek moyang yang tak masuk akal. Merekalah yang hatinya tersentuh dengan cahaya kebenaran, kemudian diberi gelar ketenaran Assabiqunal Awwalun. Oh ya, Kau benar. Manusia yang kumaksud adalah Baginda Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Aku melanjutkan langkahku, meninggalkan jembatan abu itu. Setapak demi tapak anak tangga aku susuri, dengan segala keriuhan di pikirku. Ah ya, jelas saja yang didapati Rasulullah dulu lebih berat dari yang kurasakan saat ini. Jauh jauhhh lebih berat. Kalimat – kalimat siang tadi masih terngiang di kepalaku, perempuan dengan baju coklat dan rok hitam membentakku ditambah matanya yang terus mengarah kepadaku. Aku sakit hati, ingin kuadukan saja pada Penciptaku. Walau aku tahu, aku memang gagal. Tapi setidaknya saat ini aku tahu, mungkin harusnya sakit hati itu tak perlu toh sakit ini tak seberapa dengan ejekan yang diterima Rasulullah dulu namun masih berbalas dengan senyum dan doa.

Aku mendudukkan diri pada sebuah bangku di depan sebuah sekolah. Halte yang sepi, hanya ada aku. Aku mengambil botol biru dari dalam tasku, lalu meminumnnya. Aku masih dalam posisi duduk, memperhatikan sekitar. Didepanku pemandangan masih sama, Jembatan yang tadi kulalui, mobil – motor dinaungi awan putih khas jam 14.00. Dari laju kiri ada seorang laki laki paruh baya, ia sedang batuk kemudian meludah ke sisi kirinya. Aku menyaksikannya, huff dalam hati aku menyesal menyaksikan itu. Tapi aku Kembali teringat, lagi lagi cerita Jaman dulu sekali.

Ada seorang manusia yang rutin melewati suatu jalan, kedatangannya begitu dinantikan oleh seorang yang lainnya yang telah menunggunya di jalan itu. Seseorang itu tahu persis kapan mereka bertemu, jam berapa, titik pertemuannya dimana. Pertemuan itu menjadi pertemuan rutin mereka, mereka sama sama menantikan. Namun, yang satu menantikan dengan penuh kebencian yang satu lagi justru menantikan dengan penuh kecintaan. Mereka pun berpapasan.Seperti biasa, Seseorang yang menunggu dijalan itu meludah dengan sengaja, kemudian disusul dengan gelak tawa kemenangan semu. Namun orang yang diludahi hanya meneguk manisnya sabar dan tak pernah kapok melalui jalan itu. Begitu seterusnya. Sampai suatu hari, orang yang biasa diludahi sudah menunggu bertemu saudaranya yang jahil itu, tapi tak jua bertemu. Hari yang aneh. Ia pun mencari berita keberadaan orang yang rutin meludahinya, ternyata didapati kabar bahwa sedang sakit. Kemuliaan akhlak yang mulia menuntunnya untuk menjenguk saudaranya, menunaikan hak sauadaranya untuk dijenguk padahal saudaranya tak pernah sekalipun menunaikan kewajibannya sebagai saudara. Ahh ya, lagi lagi kau benar. Orang yang berakhlak mulia itulah Baginda Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Tak terasa air mataku mengalir. Oh indahnya hati yang seperti itu. Menerima segala keburukan dan membalasnya dengan balasan yang begitu manis. Allahumma Sholli ala Muhammad Wa Ala Ali Muhammad. Aku menghapus air mataku dengan handshock merahku. Aku memasukkan botol ke dalam tasku dan Kembali melanjutkan perjalanan. Belum jauh aku melangkah, tak sadar ada sebuah batu kecil didepanku.

“Astaghfirullah”. Refleksku. Aku tersandung hampir tersungkur, tapi beruntung aku dapat menyeimbangkan tubuhku. Mungkin ini teguran dariNya atas pikiran – pikiran negatifku hari ini. Bukankah manusia itu memang tempatnya salah, dan begitu PenyayangNya Allah yang memiliki sifat Maha Pemaaf. Tidak bisakah aku berlapang hati memaafkan orang lain?.

Aku Kembali teringat cerita Jadul, ketika seorang hendak mengajukan penawaaran Kerjasama dengan Feedback yang sama sekali tak ada ruginya. Penawaran Kerjasama atas nama keimanan kepada Sang Raja di Kota Thaif. Penawaran Kerjasama itu dihantarkan dengan senyum terbaik dengan niat yang terbaik pula dan kontrapretasi Kerjasama yang tak tanggung tanggung yaitu Sang Raja mau diajak beriman kepada Allah dan menyeru penduduknya untuk mengimani Allah dan akan mendapatkan Feedback berupa Jalan yang lurus dan Agama yang diridhoi Allah serta Goals jangka Panjang adalah SurgaNya. Sayangnya, Raja tersebut menolak mentah mentah dan menghadiahi seorang yang menawarkan Kerjasama dunia akhirat untuknya dengan teriakan “Gila” dan lemparan batu oleh penduduknya. Darah membanjiri tubuh seorang tersebut Bersama sahabat baiknya yang mencoba melindunginya. Namun setiap ada darah yang hampir jatuh ke tanah, buru buru ia cegah. Heran. Ketika ditanya justru jawabannya “Agar Murka Allah tak menimpa negeri ini”. Bayangkan saja. Atas segala perlakuan keji itu, ia masih melindungi Sang Raja dan Penduduknya. Ya, lagi lagi kau benar. Seorang itu adalah Baginda Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Aku menarik nafas yang dalam kemudian menghembuskan perlahan sembari mengucap istighfar dalam hatiku. Aku harus Kembali pada fitrahku, manusia akhir zaman yang menjadi saksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah. Al Quran, Hadits dan Sunnahnya menjadi warisan hingga akhir zaman. Selain menerapkan sunnah Rasulullah seperti menjalankan ibadah sunnah, berdagang, makan dan minum sambil duduk dan lainnya, kita tak boleh luput bahwa memaafkan orang lain yang telah berbuat buruk kepada kita adalah bagian dari sunnahnya. Akhlak yang mulia adalah perilaku yang dapat menjadi petunjuk bagi kita, umatnya. Aku merindukannya, maka semoga rindu ini yang akan mempertemukanku di Telaga Al Kautsar nantinya. Memandangi wajahnya yang bercahaya dan mendengarnya mengakuiku sebagai umatnya. Aamiin Ya Rabb. Allahumma Sholli Ala Muhammad wa Ala Ali Muhammad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

ASET BANGSA HARUS TAU!

November dikenang sebagai hari istimewa para pendahulu hebat, dalam tulisan ini mari telusuri bersama, nama-nama yang asing, tapi penuh dengan darah juang. Adakah yang tahu? Siapa orang dibalik foto proklamasi Indonesia? Biasanya kita hanya mengetahui sosok Soekarno dan Hatta, yang ada dalam gambar tersebut. Perkenalkan ini mereka, Mendur Bersaudara. Frans […]

Subscribe US Now

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial