KENAPA HARUS MENGHAFAL AL-QUR’AN

Oleh: Syaima Mufida

Dari kecil, saya tumbuh di tengah keluarga penghafal Qur’an. Bukan, bukan karena ayah dan ibu seorang penghafal Qur’an. Bahkan, mereka masih terbata-bata mengeja ayat demi ayat. Kondisi itu tumbuh karena penyesalan yang terlewat menjadi impian berharap sebab kebaikan di akhirat.

Satu demi per satu sang anak di sekolahkan, diantar ke gerbang-gerbang dunia para kekasih Allah. Berharap penyesalan yang terlewat tidak menjadi penyesalan bagi anak-anaknya dan menjadi sebab bangkrut di akhirat.

“Gimana hafalannya?”
“Sudah sampai mana hafalannya?”
“Yaudah dipaksain murojaah, jangan ikutin temen”

Setiap temu, Al-Qur’anlah yang mendahului perkara sehat, psikis dan akademik. Tak peduli, saat itu akademik sedang padat-padatnya. Tak peduli, saat itu diri sedang sakit-sakitnya. Tak peduli, saat itu diri sedang ingin didengar. Bukan ditanya tentang Al-Qur’an yang membuat lisan hanya bisa meng-iyakan setiap nasihat yang katanya penyemangat.

Sebal. Ayah dan ibu hanya memikirkan hafalan, hafalan dan hafalan. Gerutu saya.

Lalu, waktu beranjak. Sekolah yang lingkungannya sudah diatur sedemikian rupa agar setiap sisi mengandung kebaikan dari Al-Qur’an menjelma dunia luar sebab batas waktu yang selalu habis di penghujung.

Dunia kampus, katanya. Saat agenda-agenda organisasi terasa menyenangkan, teman-teman baru dan tugas akademik meminta jatah waktu untuk diselesaikan. Sedang waktu habis di perjalanan dan rumah hanya menjadi singgah sebagai tempat peristirahatan.

Di sinilah saya, menemui kekosongan. Setiap pagi beranjak yang ada dibenak hanyalah;

“Jam berapa sekarang?Ayo bangun kuliah gaboleh telat”

Subuh di perjalanan, menyita waktu untuk membuka Al-Qur’an. Sebab, ada kereta yang harus dikejar. Membuka Qur’an di dalamnya pun tak sanggup karena berdesakan. Sesampainya di kampus, tugas dan akademik berkejaran. Belum lagi teman-teman yang mengajak hanyut dalam perbincangan. Ah, lagi-lagi kapan waktu berduaan dengan Al-Qur’an?

Lalu, motor yang saya kira menjadi solusi meminimalisir waktu yang lama di perjalanan. Tetap menyita tangan untuk menggenggam dan membaca Al-Qur’an. Kadang, surat-surat pendek yang dihafal tidak mampu menemani habis sampai tujuan.

Lalu, di suatu waktu saya merasa kosong sekali. Menangisi sebab pernah sebal setiap ayah dan ibu menyemangati menghafal Al-Qur’an. Baru saya sadari nyatanya, ada saat kita tidak bisa menggenggamnya. Ada saat kita tidak bisa melantunkannya dengan melihat ayat-ayat yang begitu indah. Ada saat di mana kita akan menangisi diri yang melewati usia sedang tidak bertambah hafalan Qur’an. Ayat yang di mana ketika dihafalkan menambah pahala, kebaikan, petunjuk, penawar, ketenangan, dan kebahagiaan.

Teman, adakah penghafal Qur’an yang tersiksa? Menderita? Coba sebutkan jika ada. Sebab, tidak pernah saya temui para keluarga Allah itu dirundung kesedihan meskipun dalam kesulitan. Di wajahnya hanya terpancar kebahagiaan yang menjelma keberkahan; kebaikan-kebaikan yang bertambah sebab cahaya Allah terpancar dari setiap ayat yang dilantunkan.

Tulisan ini dibuat untuk diri saya sendiri. Dengan apalagi kemudahan-kemudahan setelah kehidupan di dunia dicapai selain dengan Al-Qur’an? Dengan apa kita mengusir sepi di alam kubur selain dengan Al-Qur’an? Dengan apa kita membela diri kita ketika malaikat melaksanakan tugasnya di alam kubur, selain dengan Al-Qur’an? Dengan apa kita melindungi diri kita di tengah panasnya Padang Mahsyar selain dengan Al-Qur’an? Dengan apa kita menjauhi diri dari api neraka selain dengan Al-Qur’an? Dengan apa kita menginginkan masuk surga selain dengan Al-Qur’an?

Di mana dengan membacanya saja, menjadi sebab kemudahan dari segala kesulitan. Dengan apa kita membuktikan syukur selain dengan Al-Qur’an?

Apakah teman, kita sudah sanggup berdiri melaksanakan solat malam sampai kaki bengkak seperti Rasulullah?
Apakah teman, kita sanggup membayangkan api neraka yang menyala-nyala menyentuh kulit kita? Ayah ibu kita? Adik dan kaka kita? Teman dakwah seperjuangan? sahabat kita?
Apakah teman, kita sanggup membayangkan tubuh kita digerogoti makhluk yang entah bagaimana bentuknya menghabiskan jasad di Alam kubur yang sepi itu?
Apakah teman, kita sanggup membayangkan hari di mana kita semua dikumpulkan dengan matahari yang berjarak hanya sejengkal di atas kepala? Sedang, panas terik dengan jarak ribuan hasta masih membuat kita berkeluh.
Apakah teman, kita sanggup?

Iya, saya juga tidak sanggup. Dan tidak sanggup membayangkan.
Maukah berjanji menjadi teman yang menjadi sebab orang-orang tersayang masuk surga karena menghafal dan mengamalkan ayat-ayatNya yang indah?
Maukah mulai hari ini, menjadi teman tumbuh bersama Al-Qur’an?
Sebab dengannya, akan ada orangtua yang dimuliakan. Akan ada orang-orang tersayang yang dapat memasuki surga bersama.

Semoga Al-Qur’an selalu menjadi sebab kita terhubung dengan baik dalam setiap aktivitas kehidupan dunia dan akhirat. Semoga..

Post Author: adminNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *