Kisah Heroik Sang Ulama dibawah Panji-Panji Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Oleh: A’am Ar-Rosyad

Tepat pada tanggal 17 Agustus di tahun ini, Indonesia telah 75 tahun merdeka dari belenggu kolonialisme dan imperialisme para penjajah. Tentunya, kemerdekaan tersebut tidak serta merta didapatkan dengan semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan panjang selama beratus-ratus tahun yang menumpahkan banyak darah para pahlawan pejuang kemerdekaan. Pengorbanan materi, harga diri, dan nyawa oleh para pahlawan yang dengan gagah berani berjuang mempertaruhkan segalanya di bawah panji-panji perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di antara para pahlawan hebat itu ada pula ulama yang turut serta mewakafkan diri berjuang ke medan perang demi tercapainya kemerdekaan Indonesia. Dua di antaranya yaitu Pangeran Diponegoro dan Tuanku Imam Bonjol.

Jauh sebelum adanya pergerakan nasional untuk mengusir penjajah dari Indonesia, Pangeran Diponegoro bersama dengan rakyatnya telah melakukan perlawanan sejak awal penjajahan Belanda di tanah Jawa. Pangeran bernama asli Mustahar dan bergelar Raden Mas Ontowiryo ini merupakan anak dari Sultan Hamengkubuwono III yang lahir pada tanggal 11 November 1785. Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan karena geram dengan Belanda yang bertindak sewenang-wenang sehingga menyengsarakan rakyatnya dengan memberlakukan pembebanan pajak ke rakyat. Kemarahan Pangeran Diponegoro memuncak ketika Belanda membangun jalan melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro tanpa izin terlebih dahulu.

Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan dengan menghimpun kekuatan masyarakat sipil. Akhirnya terjadi perang yang berkecamuk di tanah Jawa dan berlagsung selama 5 tahun (1925-1930), perang tersebut dinamakan Perang Diponegoro. Selama 5 tahun, Pangeran Diponegoro bersama rakyatnya berhasil membuat pasukan Belanda kewalahan dan terpojok. Kota Semarang menjadi saksi perjuangan heroik Pangeran Diponegoro ketika melawan pasukan Belanda di bawah pimpinan Jan Willem Janssens. Namun, akhirnya Pangeran Diponegoro berhasil dikalahkan oleh Belanda dengan cara yang licik. Belanda melakukan tipu daya kepada Pangeran Diponegoro hingga sang ulama akhirnya berhasil ditangkap dan Perang Diponegoro pun berakhir pada tanggal 28 Maret 1830.

Selain perjuangan heroik Pangeran Diponegoro di tanah Jawa, ada pula ulama yang terjun ke medan perang dan memberi perlawanan kepada Belanda di Pulau Sumatera, tepatnya Sumatera Barat. Sumatera Barat merupakan daerah yang memiliki mayoritas penduduk beragama Islam, namun penyebaran Islam di daerah itu banyak mengalami gangguan terutama dari kaum Adat. Kaum Adat yang masih berpegang teguh pada tradisi leluhur yang kental akan kemaksiatan dan kemudharatan lah yang menciptakan terjadinya konflik antara kaum Adat dengan kaum Padri yang notabene merupakan pembela agama Islam. Konflik tersebut menjadi semakin parah ketika Belanda menghasut kaum Adat dan mengadu domba (devide at impera) antara kaum Adat dengan kaum Padri sehingga terjadi perang saudara yaitu Perang Padri.

Pahlawan sekaligus ulama yang berjuang melawan tentara Belanda dan kaum Adat yang telah diprovokasi oleh Belanda yakni Peto Syarif atau Tuanku Imam Bonjol. Beliau adalah pahlawan sekaligus ulama yang sangat kuat dalam memimpin kaum Padri dalam melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda di tanah Minangkabau. Perlawanan Tuanku Imam Bonjol berakhir setelah beliau menyerah kepada Belanda ada tahun 1837 setelah kesulitan menyatukan pasukan yang tercerai-berai. Tuanku Imam Bonjol wafat pada 8 November 1864 di Lotta, Minahasa (tempat pengasingan terakhirnya).

Pangeran Diponegoro dan Tuanku Imam Bonjol adalah salah satu di antara sekian banyaknya ulama muslim pejuang kemerdekaan. Masih banyak ulama yang berperan dalam tercapainya kemerdekaan Indonesia seperti Kyai Haji Hasyim Asysyhari, Kyai Haji Ahmad Dahlan, Kyai Haji Wachid Hasyim, dan tokoh-tokoh pejuang muslim lainnya. Semangat dakwah mereka semua sepatutnya kita teladani dan kita implementasikan dalam mendakwahkan ajaran Islam pada masa sekarang ini. Memang Indonesia telah merdeka secara konstitusional, namun belum secara moralitas bangsanya, terkhusus generasi mudanya. Sepatutnya, kemerdekaan itu diraih secara kaffah (menyeluruh) dan untuk mewujudkan hal itu maka estafet dakwah Islam harus tetap dilaksanakan. Dengan meneruskan perjuangan dalam mendakwahkan syariat Islam, sama halnya dengan meneruskan jihad para pahlawan Islam yang telah mendahului kita. Wallahu a’lam bish-shawabb.

Referensi:

https://www.kompasiana.com/mfirdausagung/55190f67a33311c313b65985/pangeran-diponegoro-pahlawan-dan-pemimpin-teladan-bangsa

https://www.merdeka.com/pendidikan/kisah-perjuangan-tuanku-imam-bonjol-untuk-kaum-padri.html

Post Author: adminNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *