Kurban: Merefleksikan Kualitas Ketakwaan Nabi Ibrahim

Yulan Mardiati

Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu momen besar bagi umat muslim, karena pada hari itu menjadi momen untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Berkurban merupakan salah satu bentuk tanda cinta, pengorbanan, dan rasa syukur seorang hamba kepada penciptanya.

Awal mula sejarah berkurban dimulai saat zaman Nabi Ibrahim a.s dan putranya yaitu Nabi Ismail a.s. Pada waktu itu Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya. Padahal ia selama ini begitu mendambakan dan telah lama menanti kehadiran seorang anak dalam kehidupannya.

Nabi Ibrahim yang merupakan perlambangan sosok ayah yang demokratis meskipun hidup di tengah masyarakat yang pastoralis[1]. Ia tetap berdialog dengan Ismail sebelum melaksanakan perintah Allah. Dalam Al-Quran dialog tersebut berbunyi: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku akan menyembelihmu. Maka pikirkan apa pendapatmu?“ (QS. al-Shaffat/37: 102)

Nabi Ismail merupakan representatif seorang anak yang berbakti kepada kepada orang tua maupun kepada Allah.  Dengan penuh kerendahan hati, Nabi Ismail yang masih berusia muda meminta agar ayahnya melaksanakan perintah Allah. Nabi Ismail menjawab “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku  termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. al-Shaffat/37: 102).

Karena ketakwaan keduanya  kepada Allah, akhirnya Nabi Ibrahim memutuskan untuk menyembelih putranya dengan penuh keihlasan semata-mata hanya karena iman yang ada dalam hati mereka. Akan tetapi, lantaran Allah melihat keikhlasan dan ketakwaan Nabi Ibrahim dalam melaksanakan perintah-Nya maka Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba.

Peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim mengajarkan kita bahwa dalam melaksanakan perintah Allah kita harus benar-benar ikhlas dan memberikan yang terbaik semata-mata karena bentuk takwa kita kepada-Nya. Meskipun juga harus mengorbankan sesuatu yang berharga dan sangat kita sayangi. Puncak dari peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan putranya yaitu Nabi Ismail sampai saat ini kita rayakan pada Hari Raya Idul Adha. Pada hari tersebut, Allah menjadikan orang-orang yang melaksanakan kurban termasuk sebagai orang yang sabar.

Selain mendapatkan pahala yang berlimpah dan merefleksikan ketakwaan terhadap Allah, dari segi sosial dan kemanusiaan berkurban dapat menggembirakan hati masyarakat miskin yang tidak mampu dengan menerima daging kurban sebagai makanan yang jarang mereka konsumsi. Dalam ibadah kurban kita juga diajarkan untuk berbagi rasa kenyang terhadap mereka yang  selama ini tidak mampu.


Referensi

[1] Khazanah Republika.co.id 30 Juni 2020

Post Author: adminNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *