Meneladani Kisah Ali Imran dalam Bingkai Keluarga Muslim Masa Kini

Oleh : A’am Ar Rosyad

Keluarga Ali Imran merupakan salah satu keluarga yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan kisahnya diabadikan menjadi nama sebuah Surah dalam kitab suci Al-Qur’an yakni Surah Ali Imran (3). Nah, kira-kira keluarga Ali Imran ini siapa sih, sampai kisahnya diabadikan di dalam Al-Qur’an? Teman-teman pasti bertanya-tanya kan? Keluarga Ali Imran merupakan keluarga yang beranggotakan sedikit orang namun memiliki kedudukan yang agung dan merupakan keluarga mulia yang dipilih oleh Allah dibandingkan keluarga-keluarga yang lain, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :


“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q. S. Ali Imran(3):33-34)


Keluarga Imran nasabnya tersambung hingga ke Nabi Daud ‘Alaihissalam. Keluarga ini adalah keturunan terakhir orang-orang beriman dari keturunan Bani Israil. Keluarga ini sungguh mulia dan patut dijadikan teladan untuk membina keluarga muslim pembangun peradaban pada zaman sekarang ini. Keteladanan keluarga Imran yang dapat dijadikan contoh oleh keluarga muslim masa kini, antara lain sebagai berikut:

  1. Istri yang Patuh dan Taat kepada Suami
    Istri Imran bernama Hannah binti Faquda. Hannah adalah seorang istri yang tekun beribadah sebagaimana kisahnya dalam Al-Qur’an :
    “(Ingatlah), ketika istri Imran berkata : Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang salih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari adaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q. S. Ali Imran(3):35)
    Istri yang patuh dan taat kepada suami akan senantiasa taat pula kepada Tuhannya. Sikap yang demikian itu akan menjaga keharmonisan dalam keluarga sehingga tidak akan terjadi pertengkaran yang menyebabkan hubungan antar suami istri menjadi tidak harmonis. Ketidak harmonisan rumah tangga dapat memberikan efek buruk bagi perkembangan anak. Oleh karena itu, sebagai keluarga muslim sudah sepatutnya menjaga keharmonisan keluarga layaknya keluarga Ali Imran.
  2. Ibu sebagai Madrasah (Guru) yang Memberikan Pengajaran Akhlaqul Karimah (Akhlak yang Baik). Diriwayatkan bahwa Imran dan Hannah dikaruniai dua orang anak peremuan. Anak pertamanya bernama Asy-ya’ yang merupakan istri dari Nabi Zakariya ‘Alaihissalam dan ibu dari Nabi Yahya ‘Alaihissalam. Anak kedua bernama Maryam yang merupakan ibu dari Nabi Isa ‘Alaihissalam. Hannah senantiasa mengajarkan kepada kedua putrinya untuk selalu taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, hal tersebut membuat kedua putrinya menjadi anak yang shalihah dan memiliki akhlak yang baik. Hal inilah yang perlu dicontoh oleh para ibu di masa sekarang, yakni tidak menyepelekan perhatian dan pendidikan kepada anaknya. Ibu zaman sekarang cenderung sibuk dengan karirnya dan mempercayakan kepada pengasuh untuk menjaga anaknya, padahal peran seorang ibu sangatlah krusial dan penting untuk perkembangan anak. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, untuk itulah seorang ibu harus memberikan pengajaran tentang norma-norma kehidupan dan akhlak yang baik.
  3. Anak yang Patuh kepada Orang Tua dan Senantiasa Menjaga Diri. Pengajaran tentang perilaku mulia dari Imran dan Hannah begitu merasuk ke dalam diri kedua putrinya. Asy-ya’ mewarisi keteladanan ibunya, beliau menjadi ibu yang baik untuk anaknya sehingga terbentuklah kepribadian yang shalih dalam diri anaknya yakni Nabi Yahya ‘Alaihissalam. Nabi Yahya ‘Alaihissalam adalah sosok yang senantiasa berkata jujur dan tidak takut celaan dan ancaman orang-orang yang dzalim. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam memuji Nabi Yahya ‘Alaihissalam dengan sabdanya : “Tidak pantas bagi siapapun untuk mengatakan bahwa aku lebih baik dari Yahya bin Zakariya. Tidaklah kalian mendengar bahwa Allah menyebutkannya dalam Al-Qur’an. ‘Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak. Beliau membaca hingga firman Allah : “menjadi panutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang salih.” (Q. S. Ali Imran(3):39). Ia tidak pernah berbuat buruk sedikit pun. Dan tidak juga berkeinginan melakukannya.” (HR. Ath-Thabrani di dalam Al-Kabir dan Al-Bazzar). Kisah Asy-ya’ dan Nabi Yahya ‘Alaihissalam dapat menjadi contoh untuk para orang tua zaman sekarang agar memberikan pendidikan tentang norma-norma yang baik dan perilaku mulia kepada anaknya sejak dini agar anaknya dapat terhindar dari pergaulan yang salah dan menyimpang, bahkan cenderung ke jurang kemaksiatan.
  4. Ayah sebagai Kepala Keluarga yang Membiasakan Penerapan Ilmu Agama dalam Kehidupan Berkeluarga. Peran Imran sebagai kepala keluarga yang membiasakan penerapan ilmu agama dalam kehidupan berkeluarga telah berhasil membuat keturunannya (anak dan cucunya) mewarisi ilmu tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan. Salah satu kisah yang sangat menyentuh adalah sirah putri kedua Imran yakni Maryam binti Imran. Maryam adalah wanita ahli ibadah dan sangat suci. Beliau merupakan ibu dari kalimah Allah, Nabi Isa ‘Alaihissalam. Putri kedua dari Imran ini adalah wanita terbaik dan paling sempurna sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : “Lelaki yang sempurna jumlahnya banyak. Dan tidak ada wanita yang sempurna selain Maryam binti Imran dan Asiyah istri Fir’aun. Dan keutamaan Asiyah dibandingkan wanita lainnya, sebagaimana keutamaan Ats-Tsarid dibandingkan makanan lainnya.” (HR. Bukhari 5418 dan Muslim 2431). Orang-orang Yahudi menuduh Maryam berzina, tuduhan itu dilontarkan baik saat Maryam masih hidup maupun setelah beliau wafat, sementara Al-Qur’an telah menyucikannya dari tuduhan keji tersebut, bahkan namanya telah diabadikan menjadi nama salah satu surah dalam Al-Qur’an yakni Surah Maryam.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


“Dan (ingatlah), Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (Q. S. At-Tahrim(66):12).


Dari ayat di atas, sudah jelas bahwa Maryam begitu memelihara kehormatannya meskipun Kaum Yahudi menuduhnya melakukan zina.


Pada zaman sekarang, wanita seperti Maryam yang menjaga kehormatan dan kesuciannya sangat jarang ditemui. Hal itu bukan serta merta salah dari pribadi seorang anak, orang tua, lingkungan, dan tontonan menjadi faktor-faktor dominan yang mempengaruhi perkembangan anak. Orang tua yang lalai, lingkungan yang membawa pada kemaksiatan, dan tontonan yang tidak mendidik membuat remaja wanita zaman sekarang rentan dengan pergaulan dan seks bebas. Banyak sekali sinetron dan acara yang seakan “mengkampanyekan” pacaran. Jika dari kecil sudah disuguhkan tontonan yang demikian, maka anak akan meniru apa yang ditontonnya dan menjadikan budaya pacaran menjadi hal yang tidak tabu. Dari sini dapat disimpulkan bahwa peran orang tua sangatlah krusial apalagi dalam mendidik anak perempuan. Sangatlah penting bagi orang tua (terutama ayah) untuk membiasakan penerapan ilmu agama dalam kehidupan anaknya sejak usia dini. Pengajaran agama yang baik dan benar akan membuat anak tumbuh menjadi seorang muslim/muslimah pembangun peradaban ke arah yang lebih baik.

Itulah beberapa keteladanan keluarga Ali Imran yang dapat dijadikan contoh untuk para orang tua masa kini dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Semoga bermanfaat. Barakallahu fiikum.

Post Author: adminNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *