MENGEMBALIKAN CINTA YANG HILANG

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Bagaimana kabarnya hari ini? Bagaimana kabarnya hati ini? Bagaimana kabar saudara-saudari? Bagaimana kabar keluarga? Bagaimana kabar umat Islam? Semoga baik-baik saja. Jalan yang kita tempuh sekarang bukanlah jalan yang pendek. Syaikh Muhamad Nashiruddin Al-Albani berkata, “Jalan kita adalah jalan Allah, yang sangat panjang. Untungnya kita tidak diwajibkan untuk sampai ke ujungnya. Hanya diperintahkan untuk mati di atasnya.”

Jalan apakah yang dimaksud oleh Syaikh tadi? Yap, jalan dakwah. Nampaknya agak seram ya kalau berbicara dakwah. Sebab, penulis pun masih merasa dzalim dan tidak layak untuk berada di atasnya. Namun lagi-lagi, inilah kewajiban seorang Muslim. Mengajak kepada kebenaran dan menjauh dari kemungkaran. Sebut saja si ‘dakwah’ itu sebagai cinta. Karena jika ia dicintai, maka pencintanya akan memberikan segala-galanya untuk yang dicintai.

Lagi, anggap saja si dakwah itu adalah pasangan kita. Yang kita tidak bisa hidup tanpanya. Yang selalu kita perhatikan. Yang selalu kita butuhkan. Yang selalu kita rindukan. Yang selalu kita doakan. Yang selalu kita khawatirkan. Yang selalu kita berikan hal terbaik dari yang kita punya. Yang selalu memotivasi diri dan kagum kepadanya. Dan yang selalu kita pikirkan setiap detik! Semoga saja dakwah selalu dianggap seperti itu dalam pribadi setiap Muslim.

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ 

104.  Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Pandemik kini seharusnya bukan alasan untuk berhenti mencintai dakwah. Ia harus tetap menjadi cinta seorang Muslim sepanjang hayat. Karena dakwah adalah cinta, maka ia akan merenggut semuanya darimu. Jika temanmu ada yang mulai menghilang dari cinta ini, maka hendaknya kita segera menjemputnya kembali ke jalan ini. Jangan sampai cinta ini roboh dan merugikan banyak orang. Mari kita kembalikan cinta yang hilang itu!

Bagaimana caranya? Sebelum pergi ke solusi, mari kita ketahui apa saja yang telah dan tengah dihadapi umat muslim saat ini. Ustadz Fathi Yakan dalam bukunya “Robohnya Dakwah di Tangan Da’i” mengungkap banyak kehancuran yang dihadapi Muslim. Sekitar tahun 1975, terjadi kehancuran yang mengenai berbagai kekuatan dan organisasi gerakan dengan beragam visi dan orientasi, baik politik maupun pemikiran. Sebagian dari mereka ada yang musnah dan sebagian lain hancur meninggalkan kepingan-kepingan. Kehancuran tersebut diantaranya:

  • Gerakan Amal telah melahirkan aktivitas Islam yang terlibat pertikaian seru dengan kelompok Hizbullah. Pertikaian ini telah menelan banyak korban di kedua belah pihak. Sebagian meninggal dan sebagian luka-luka.
  • Partai Sosial Demokrat Suria telah menyaksikan kehancuran parah tatkala terjadi pertempuran dengan Hizbullah, yang berakibat munculnya upaya saling memusnahkan.
  • Gerakan Nashiriyah terpecah menjadi faksi-faksi kecil, antara lain: Al-Murabithun, Persatuan Kekuatan Masyarakat Buruh, Organisasi Masyarakat Nashiri, Kekuatan Nashir, Persatuan Komunis Arab, dan lain-lain.
  • Battalion-batalion militer Lebanon pecah berkeping-keping dan memunculkan beberapa kelompok kekuatan yang membayangi kekuatan militer nasional. Akibatnya, muncullah dua kepemimpinan: Ily Hubaikah dan Samir Ja’ja’. Semakin hari kepingan mereka semakin bertambah.
  • Front Lebanon, ia mengalami guncangan hebat sepanjang sejarahnya. Guncangan pertama terjadi saat kekuatan militer pemerintah melumpuhkan sayap militer Partai Tanah Air Merdeka dalam sebuah pertempuran yang terkenal dengan Perang Shafira’. Kemudian, guncangan berikutnya terjadi ketika kekuatan militer berusaha memusnahkan seorang pemimpin yang membelot, Toni Frangiah beserta keluarga, sebagian besar anggota partainya, dan rekan-rekan politiknya. Peristiwa ini terkenal dengan julukan Penjagalan Ihdan.
  • Gerakan Tauhid Islami secara tiba-tiba dilanda peristiwa yang memilukan Kota Tripoli. Gerakan yang selama ini telah berakar kukuh di kota ini, hanya dalam waktu kurang dari empat tahun diluluhlantahkan oleh berbagai pertikaian yang melibatkan kekuatan militer dari berbagai pihak.

Subahanallah. Begitu banyak kehancuran dakwah yang terjadi kala itu. Ternyata gerakan dakwah bisa hancur juga ya! Sebenarnya, apasih yang menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa tadi?

Ustadz Fathi Yakan dalam bukunya menyebutkan bahwa ada 7 penyebab hancurnya gerakan dakwah:

  1. Hilangnya Mana’ah I’tiqadiyah (Imunitas Keimanan) dan tidak tegaknya bangunan di atas fondasi pemikiran dan prinsip yang benar dan kukuh.
  2. Rekruitmen hanya memperhatikan aspek kuantitas. Artinya, bilangan anggota dan jumlah personnel menjadi demikian menyibukkan dan menguras perhatian pemimpin.
  3. Karena “tergadai” pihak luar, baik oleh sesama organisasi maupun oleh negara. Bisa juga tergadai oleh basis-basis kekuatan, baik politik, ekonomi, keamanan, maupun keseluruhan unsur ini sekaligus. Akibatnya, organisasi tadi kehilangan potensi cengkeram, orientasinya kabur, dan arah politiknya pun bias. Jadilah ia sebuah organisasi yang diperalat untuk kepentingan pihak lain, meskipun terkadang ia sendiri bisa mendapatkan kepentingannya dengan cara itu.
  4. Tergesa-gesa ingin meraih kemenangan, meskipun tidak diimbangi dengan sarana yang memadai. Betapa banyak organisasi gerakan yang mendalangi pembunuhan pihak penguasa. Ia menganggap bahwa terbunuhnya sang penguasa adalah cita-cita akhir gerakannya.
  5. Munculnya pusat-pusat kekuatan, aliran, dan sayap-sayap gerakan dalam tubuh organisasi.
  6. Adanya campur tangan pihak luar.
  7. Lemah atau bahkan tiadanya kesadaran politik dalam gerakan dakwah.

Bermula dari fenomena kehancuran bangunan gerakan dan organisasi di berbagai wilayah dan negeri, maka sebuah gerakan Islam harus segera mengadakan studi kritis dan mendalam dalam rangka menjaga wilayah-wilayah Islam secara umum serta bangunan lembaga gerakan secara khusus. Apa saja faktor-faktor syariat yang dibutuhkan oleh bangunan dakwah Islam untuk menghadapi penyakit gerakan dakwah ini, yang hendak melumpuhkan imunitas hingga menghancurkannya sama sekali? Check this out!

  • Tegakkan Bangunan di Atas Landasan Takwa kepada Allah

Menegakkan bangunan di atas dasar takwa kepada Allah SWT pada seluruh elemennya adalah suatu keharusan. Takwa harus menjadi landasan amal islami seluruhnya. Ia menjadi perlindungan keamanan baginya. Selain aktivitas tarbawiy (pendidikan), maka aktivitas siyasi (politik) pun mesti dibangun dengan landasan takwa. Sebagaimana halnya bidang iqtishady (ekonomi), ijtima’iy (sosial kemasyarakatan), maupun maliy (harta benda) wajib ditegaskan tanpa mengandung sedikit pun nilai syubhat.

  • Kukuhkan Ukhuwah karena Allah

Ukhuwah (persaudaraan) karena Allah adalah buhul iman yang paling kukuh, elemen bangunan yang paling kuat dan faktor yang menjadikan gerakan Islam laksana bangunan tegar yang bagian-bagiannya saling melengkapi.

  • Bangunlah Fondasi Saling Wasiat dalam Kebenaran

Fondasi yang isinya tawashu billhaq wa tawashau bishabr, saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran, menasihati karena Allah, dan beramar makruf nahi mungkar. Setiap bangunan yang tidak dilandasi oleh nilai-nilai tersebut, maka ia akan menjadi bangunan rapuh yang tidak bisa bertahan lama.

  • Kebenaran berada di atas segala-galanya dan semua orang harus tunduk di hadapannya, baik anggota maupun pimpinan.
  • Semua orang sejajar di hadapan kebenaran, baik anggota maupun pemimpin, bawahan maupun atasan.
  • Pemimpin berhak melakukan ijtihad tentang sesuatu yang tidak ada teks dalil syariatnya.
  • Para individu anggota hendaknya saling menasehati sesamanya, demikian pula para pemimpin.
  • Penegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dalam syariat Islam hanya ditujukan terhadap sebuah kemungkaran yang tidak diperselisihkan dan tidak boleh ditegakkan terhadap masalah ijtihadiyah.
  • Dalam menegakkan tradisi nasihat-menasihati dana mar makruf nahi mungkar hendaknya diperhatikan syarat-syarat syar’i.
  • Tidak mengenal kemungkaran dengan cara yang tidak syar’i.
  • Tegakkan Tradisi Syura

Prinsip syura harus ditegakkan. Jauhkan kediktatoran dan egoisme. Inilah prinsip yang Allah SWT tanamkan kepada Nabi-Nya SAW dengan firman-Nya. “Dan musyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah” (Ali Imran: 159). Meskipun situasinya sedang pandemi, syuro online bisa tetap dijalankan bukan?

  • Menjalin Hubungan dengan Penuh Rasa Cinta dan Kasih Sayang

Lembaga gerakan dakwah harus tegak di atas landasan kasih sayang, rasa cinta, dan rasa senasib sepenanggungan tanpa mengabaikan mekanisme organisasi. Namun demikian, ia juga tidak boleh menjadikan organisasi semata sebagai dasar hubungan antara anggota dan pemimpin, atau pemimpin dengan anak buah. Sejauhmana tingkat kemesraan hubungan antara anggota dan pemimpin, sejauh itulah tingkat kekuatan dan ketahanan bangunan dan gerakan dalam menghadapi berbagai unsur penghancur, betapa pun banyak dan beragamnya. Yuk tanyakan kabar saudara-saudari kita.       

Masya Allah. Semoga Allah selalu memberikan kita kemampuan untuk menjaga cinta ini ya. Kita harus berhati-hati terhadap penyakit atau virus-virus yang membahayakan gerakan cinta/dakwah. Memang, sekarang sudah banyak gerakan dakwah yang bergerak entah di formal ataupun non formal. Realitas yang menggembirakan namun terdapat kesedihan di dalamnya berupa kehancuran gerakan yang justru lahir dalam diri gerakan dakwah itu sendiri. Yuk semangat yuk. Sebab mereka yang ada di jalan dakwah yang Allah ridhai tetap hidup sesudah mati. Hidup dengan semua arti yang terkandung dalam kata “hidup” itu sendiri.

“Aduhai alangkah baiknya seandainya kaumku mengetahui. Bersebab apa kiranya Rabbku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.” Q. S. Yaasiin: 26-27.

Di jalan cinta para pejuang, kadang ada asap tanpa api. Maka alangkah mereka yang awas menjaga diri, dan cerdik membawa diri. Jika Sang Nabi Suci pun terus berusaha menjaga diri dan waspada membawa diri, maka kita yang banyak silap dan alpa ini perlu semakin mengenal batas-batas syar’i. Memahami aturan-aturan ilahi. Lalu mundur selangkah untuk memberi ruang bagi bayang-bayang haram. Agar tak jatuh menimpa tubuh. Agar tak ada abu-abu yang melelehi baju.

Di jalan cinta para pejuang, menolak kemunkaran terdahulukan daripada mengambil kemaslahatan. Di sini, menutup pintu-pintu kerusakan menjadi tradisi. Di sini, kehati-hatian adalah pakaian karena kita sedang meniti jalan yang semak di tepiannya bisa menyemburkan asap tanpa api. Jalan cinta para pejuang. (Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang: 2008).

Semangat terus yaa berdakwah online nya. Insya Allah keberkahan akan senantiasa mengiringi kita yang berjuang di atasnya. Semoga Allah berkahi setiap agenda Lembaga Dakwah Kampus, Lembaga Dakwah Fakultas, dan semua lembaga dakwah yang ada di dunia. Barakallah fiikum.

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.

Dari yang masih belajar,

Nurul Inayah

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber:

Yakan, Fathi. 2003. “Robohnya Dakwah di Tangan Dai”. Era Intermedia

Salim & Felix. 2016. “Bersamamu, Di Jalan Dakwah Berliku”. Yogyakarta: Pro-U Media

Fillah, Salim. 2008. “Jalan Cinta Para Pejuang”. Yogyakarta: Pro-U Media

Post Author: adminNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *