Menghasilkan Ombak Pasca Hijrah

adminNN
0 0
Read Time:5 Minute, 35 Second

Gelombang hijrah yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin sekitar tiga tahun terakhir memang sedikit membangkitkan asa kebangkitan yang dinantikan. Namun gelombang ini memunculkan beberapa pekerjaan rumah baru ditengah kaum muslimin itu sendiri,kaum muslimin berada pada posisi buih yang terombang-ambing tidak punya kuasa, ini boleh jadi dikarenakan kaum muslimin memang merindukan kejayaan instan, namun entah apa yang kurang. Dari sedikit refleksi terhadap kondisi pada masa milenial ini, izinkan saya untuk sedikit memberi Analisa general.

Secara garis besar, umat ini berhijrah tidak sesuai tata cara rasulullah mendidik, karena pada masa itu rasulullah mendidik umatnya selama tigabelas tahun pertama dengan permasalahan aqidah dan mencintai Allah diatas segalanya, maka tak heran tigabelas tahun itu cukup untuk dikatakan cukup untuk menghapus kebiasaan buruk di masa-masa sebelumnya. Pada masa itu Allah mendidik kaum muslimin melalui qur’an dan diri rasulullah salah satunya melalui kisah-kisah orang terdahulu, bagaimana hasil dari beriman, bagaimana konsekuensi dari kufur terhadapNya. Kisah-kisah ini terbukti berhasil dalam mendidik kaum muslimin kala itu, tak heran 20 tahun setelah dikuatkan ini menjadi puncak pertama kegemilangan kaum muslimin, karena saat itu. Islam melalui Madinah sudah mampu memberikan problem solving atas masalah-masalah yang terjadi pada negeri kaum muslimin yang telah ditaklukkan, pun negeri-negeri diluar islam sudah mengunjungi Madinah untuk mencari ilmu atau orang yang mampu menyelesaikan masalah yang ada pada negeri mereka.

Kembali melihat fakta, gelombang hijrah ini sudah laksana sebuah tren tanpa follow up. Hijrah sebatas pakaian dan postingan bukanlah ajaran Rasulullah SAW empat belas abad lalu. Karenanya, butuh pengembalian nilai 14 abad lalu pada diri kaum muslimin saat ini, memang terlalu dini menilai ini kurang apik, namun yang Namanya pencegahan yang baik harus dilakukan sedini mungkin. Kembali kepada ajaran rasulullah pada empatbelas abad lalu adalah kunci menuju kebangkitan nyata.

            لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Arti: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Berkaca kepada diri saya dan sedikit hasil Analisa saya terhadap diri orang lain, akan lebih mudah membuat hati tersibgoh dengan kisah, kisah nyata dari sumber yang diyakini kebenarannya. Banyak kaum muslimin yang yakin akan kebenaran qur’an, namun entah kenapa belum Allah beri kesempatan untuk menggali kebenarannya, maka pe-er bagi kaum muslimin masa-masa ini adalah menguasai kisah dan mengkisahkannya kembali, berikut dengan hikmah dan sedikit Analisa mengapa pada kisah itu terjai hukum kausalitas dengan pola yang kurang lebih sama.

Pada surah yusuf ayat 111 tersebut Allah kemukakan bahwa al qur’an memuat kisah-kisah terbaik. Ayat ini menjadi sebuah penutup yang bagus dari kisah yusuf yang luar biasa jikalau hanya dibaca, jikalau mau ditelisik kisah yusuf as lebih dalam lagi. Kita temukan hikmah-hikmah atau kausalitas tersirat yang mampu memperkuat aqidah kita, untuk melaju ke tahapan hijrah berikutnya.

Coba kita bandingkan jika diri ini diberi nasihat. Bukankah lebih nikmat diberi nasihat secara tersirat dengan kisah?

Kembali ke judul, umat islam sebagai rahmat bagi sekalian alam harus menjadi ombak yang membawa buih ke arah tepi.Izinkan saya untuk mengibaratkan tepi ini  sebagai ridho Allah, yang dengan menjadi ombak, umat memiliki kekuatan yang mampu menggerus buih atau membawa buih atau bahkan merubah buih dilautan menjadi ombak, untuk mengantarkannya kepada ridho Allah, yang dengannya kebahagiaan dunia dan akhirat akan menjadi mudah untuk didapat dan itulah tujuan besar dalam hidup kaum muslimin dahulu dan sekarang.

Wallahu a’lam

Keterangan tambahan

  1. Islam sebagai rahmat sekalian alam :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam ( Al Anbiya ayat 117)

Tafsir Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah :

Dan Kami tidak mengutusmu dengan membawa syariat dan hukum, wahai Nabi kecuali sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia dan jin, karena kamu diutus untuk membahagiakan dan memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat.

2. Tafsir lanjutan surah yusuf ayat 111:

a. Aisarut Tafasir / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, pengajar di Masjid Nabawi:

Yakni kisah para nabi dan rasul bersama kaumnya. Dari kisah-kisah itu, mereka dapat mengetahui perbuatan yang akan mendatangkan kemuliaan dari Allah dan perbuatan yang mendatangkan kehinaan, mereka pun mengetahui sifat sempurna dan hikmah yang dalam yang dimiliki Allah, dan bahwa tidak ada yang berhak diibadati selain-Nya. Sesuai dengan kitab-kitab terdahulu dan membuktikan kebenarannya. Yang dibutuhkan hamba dalam agama, baik masalah ushul (dasar atau pokok) maupun furu’ (cabang). Sehingga mereka selamat dari kesesatan dan memperoleh rahmat atau memperoleh balasan atau pahala di dunia dan akhirat. Benar, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.

b. Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an / Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I — هداية الإنسان بتفسير القران Sebagai penutup surah yusuf, Allah kembali mengingatkan bahwa pada kisah para nabi dan rasul, termasuk kisah nabi yusuf, terkandung pesan-pesan untuk dipelajari dan dihayati manusia. Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. Kisah-kisah dalam Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat atau sekadar dongeng pelipur lara, tetapi kisah-kisah itu membenarkan kandungan kitab-kitab yang sebelumnya, yaitu taurat, zabur, dan injil, yang menjelaskan segala sesuatu tentang prinsip-prinsip nilai yang dibutuhkan manusia guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, dan sebagai petunjuk menuju jalan lurus dan rahmat yang penuh berkah bagi orang-orang yang beriman. Surah yusuf dimulai dengan pernyataan bahwa Al-Qur’an adalah ayatayat dari kitab yang nyata. Al-qur’an menceritakan kisah-kisah terbaik sepanjang perjalanan sejarah kemanusiaan. Surah ini kemudian ditutup dengan ayat yang menegaskan kembali adanya pelajaran pada kisah-kisah itu bagi orang-orang yang berakal. Hal ini merupakan bukti keserasian dan keruntunan dari kandungan Al-Qur’an. Alif laam miim raa’. Hanya Allah yang mengetahui maksud ungkapan ini. Itu adalah ayat-ayat kitab Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada nabi Muhammad. Ia berisi petunjuk dan ajaran bagi umat manusia. Dan ketahuilah bahwa kitab yang diturunkan kepadamu, wahai nabi Muhammad, dari tuhanmu itu adalah benar dari-Nya, tuhan yang maha mengetahui; tetapi kebanyakan manusia tidak beriman kepada-Nya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

SERENADE DI MUSIM DINGIN [FRAGMEN 1]

Oleh : Heri Samtani Praha, 2024 Waktu bergulir cepat. Jarum jam melahap detik-detik begitu buas. Seharusnya aku tak mampir ke Praha, apalagi di musim dingin yang mengiris kulit. Hanya saja, aku ingin menyaksikan serenade dari lima negara. Shafira termasuk bintangnya. Untuk pertama kalinya, ia akan membawakan sejumlah lagu ballad di […]

Subscribe US Now

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial