MENJADI SEBAIK-BAIKNYA HAMBA

adminNN
0 0
Read Time:4 Minute, 34 Second

Oleh: Intan Puspita Sari


Kini perusahan berlomba-lomba mendapatkan berbagai penghargaan dan eksistensi di pasaran. Anak sekolah pun berlomba-lomba jadi juara kelas. Kontes, pertandingan dan macam-macam lomba dikejar, karena kita merasa tertantang untuk jadi juara. Tapi, pernahkah kita sibuk bekerja menerima penghargaan dari Sang Pencipta Alam Semesta? Pernahkah kita berkeinginan menjadi sebaik-baiknya hamba? Pasti hadiahnya jauh lebih hebat, lebih penting, abadi pula. Namun terdengar berat,  bahkan dirasa mustahil untuk manusia penuh dosa seperti kita ini. Tapi, perlahan saya menyadari bahwa tujuan kita hidup itu adalah menjadi sebaik-baiknya hamba. Mungkin beberapa orang akan bertanya tentang bagaimana caranya menjadi sebaik-baiknya hamba?  Lalu saya berpikir dan terus mencari jawabannya.  Hingga pada akhirnya saya tergerak untuk menuliskan nya disini. Siapa sih manusia yang bisa menjadi sebaik-baiknya hamba? Apakah kita termasuk golongan tersebut? Ini beberapa kriteria untuk menjadi sebaik baiknya hamba:

1. Manusia yang beriman dan melakukan amal shaleh

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

 Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk. (QS. Al Bayyinah: 7)

2. Manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Thabrani,

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ath Thabarani)

Mengapa harus bermanfaat untuk orang lain? selain berdasarkan hadist diatas, pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, selalu berinteraksi dengan orang lain. Karena itu manusia tidak bisa hidup normal tanpa orang lain, mereka akan saling membutuhkan, memberi dan diberi, menghargai dan dihargai, serta sederet aktivitas sosial yang lain. Semuanya itu untuk memenuhi kebutuhan sosial, dan aktivitas sosial yang kita lakukan seharusnya memberikan manfaat kepada orang lain. Menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain adalah impian setiap orang, termasuk saya.  Besarnya manfaat kita kepada orang lain akan menjadikan kita pribadi yang lebih baik, lebih berkembang dan lebih kuat. Banyak cara bisa kita lakukan untuk saling memberi manfaat kepada orang lain. Yang paling mendasar adalah melakukan setiap kewajiban kita sendiri dengan baik, dengan benar, sehingga tidak merepotkan orang lain. 

3. Manusia yang paling bagus akhlaknya.

«إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا»

Sesungguhnya  yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya. (HR. Bukhari No. 3559, dari Ibnu Umar, Muslim No. 2321, dari Ibnu Amr. Ini lafaz Bukhari)

Mengapa manusia yang akhlaknya baik termasuk dalam kriteria untuk menjadi sebaik-baiknya hamba?  Berbicara tentang akhlak,  berdasarkan informasi melalui internet yang saya dapatkan bahwa akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak itu bersifat dinamis, bisa berubah-ubah. Sebagian sifat yang baik sebagai akhlak terpuji adalah sifat bawaan sejak lahir, dan sebagiannya lagi diperoleh dengan jalan dilatih dan diusahakan dengan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, seseorang yang memiliki akhlak kurang terpuji bisa diubah dan diperbaiki, karena jiwa manusia diciptakan sempurna atau lebih tepatnya dalam proses menjadi sempurna. Karenanya, ia selalu terbuka dan mampu menerima usaha pembaruan serta perbaikan.

Karena akhlak bersifat dinamis, maka setiap orang memiliki kesempatan untuk memiliki akhlak yang baik. Berdasarkan pengalaman saya,  akhlak seseorang itu tergantung pada lingkungannya. Misalnya,  kalau dia berada di lingkungan yang sering berkata kasar,  maka dia akan terbawa seperti itu juga.  Maka untuk memiliki akhlak yang baik,  kita perlu memilah teman yang tentunya memiliki akhlak baik pula.

4. Manusia yang mempelajari Al Quran dan Mengajarkannya

«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»

Sebaik-baiknya kalian adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya. (HR. Bukhari No. 5027, dari Utsman)

Mengapa sebaik-baiknya hamba adalah mempelajari dan mengajar Al-Quran? Apakah dengan mempelajari saja tidak cukup? Pernah saya mendengar pemyampaian dari kaka tingkat saya. Perkataan ini selalu saya ingat,  ya tentang kitab Allah yang paling sempurna yaitu Al-Qur’an.  Saat itu ia bertanya sudahkah kita mempelajari Al Qur’an? Sudah,  jawabku dengan lantang. Dan pertanyaan kedua,  sudahkan kalian menghafal Al-Qur’an?  Sudah, jawabku ragu. Lalu,  sudahkah kalian mengajarkan Al-Quran? Hanya sedikit yang menjawab. Dan terakhir,  sudahkah kalian mengamalkan Al-Quran? Tidak ada satupun yang bersuara. Dari situ tergambar bahwa mempelajarinya saja tidak cukup,  kita perlu menghafal,  mengajarkan,  dan tentunya mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

5. Manusia yang panjang umur dan amalnya semakin baik

” أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِكُمْ؟ “، قَالُوا: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: ” خِيَارُكُمْ أَطْوَلُكُمْ أَعْمَارًا، وَأَحْسَنُكُمْ أَعْمَالًا ”

Maukah aku tunjukkan manusia terbaik di antara kalian? Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Manusia terbaik di antara kamu adalah yang paling panjang usianya dan semakin baik amalnya.” (HR. Ahmad No. 7212, dari Abu Hurairah. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Al Hakim, Al Mustadrak No. 1255, katanya: shahih sesuai syarat Syaikhan (Bukhari-Muslim))

Rasanya iri sekali ketika melihat golongan manusia yang berkesempatan untuk menjadi sebaik-baiknya hamba,  tapi bisa ngga sih kita menjadi sebaik-baiknya hamba tapi belum termasuk di golongan itu? Jawabannya,  bisa. Karena sejatinya kehidupan itu adalah sebuah proses untuk menjadi lebih baik.

Wallahu A’lam Bisawab

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

MUSLIMAH PERINDU JANNAH

Oleh: Anisa Nurochmah Jika banyak kita dapati perkataan, “Bagaimana aku bisa hijrah, menjadi baik sementara lingkunganku tak mendukung, masih banyak maksiat dimana – mana,…” Adalah Asiyah binti Muzahim. Tak asing dengan nama itu? Beliau yang tetap teguh dengan keimanannya meski hidup terkungkung di lingkungan musuh besar Allah -suaminya sendiri, orang yang dicintainya, […]

Subscribe US Now

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial