MUSLIMAH PERINDU JANNAH

adminNN
0 0
Read Time:3 Minute, 9 Second

Oleh: Anisa Nurochmah


Jika banyak kita dapati perkataan, “Bagaimana aku bisa hijrah, menjadi baik sementara lingkunganku tak mendukung, masih banyak maksiat dimana – mana,…”

Adalah Asiyah binti Muzahim. Tak asing dengan nama itu?

Beliau yang tetap teguh dengan keimanannya meski hidup terkungkung di lingkungan musuh besar Allah -suaminya sendiri, orang yang dicintainya, Fir’aun.

Bagaimana bisa?

Ia hidup diantara orang – orang yang menuhankan suaminya namun ia tetap memilih beriman kepada Allahu Rabbul ‘Alamin.

Bagaimana bisa?

Ia tetap bertahan pada keimanannya sementara suaminya, orang terkasihnya, justru menyiksanya sebegitu kejam tersebab keimananya.

Jika kita mengenal Bilal bin Rabbah yang bunyi terompahnya terengar hingga di jannah Nya. Yang pernah mendapat siksa sedemikian rupa, ditindih batu dibawah terik matahari.

Maka mari kita flashback ke zaman Nabi Musa.

Masih dengan Asiyah binti Muzahim.

Dimana kodratnya seorang wanita tak akan mampu menerima beban fisik layaknya pria. Kali ini, tersebab keimanannya, Asiyah mendapat siksa serupa Bilal. Dijemurnya ia dihadapan rakyat suaminya. Ditindih batu punggungnya dibawah terik matahari. Dipaku kedua kaki dan tangannya.

Namun ia tetap setia pada Rabb nya.

Asiyah binti Muzahim

Wanita mulia dimana doa saat ia disiksa Allah abadikan dalam Q.S At Tahrim ayat 11.

رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“….Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”.

Dan setelah mendengar doa Asiyah, Allah singkap hijab penghalang, Allah perlihatkan kepada Asiyah yang tengah tersiksa bagaimana rumahnya yang sedang dibangun di surga.

Asiyah, ia bahagia luar biasa, senyuman terbit diwajahnya. dan Fir’aun heran kenapa istrinya justru tersenyum saat disiksa.

Pun aku mengenal seorang wanita bercadar dilingkungan rumahku yang sempat tak dianggap anak oleh keluarga tersebab keteguhannya menggenggam sunnah. Sempat menjadi cibiran tetangga, dianggap pengikut aliran sesat dan sebagainya.

Dan mungkin ia masih menjadi satu satunya wanita bercadar disitu.

Tapi ia tetap pada prinsipnya, menggenggam erat sunnah.

Dan akhirnya sekarang beliau bahagia bersama keluarga kecilnya. Membangun keluarga atas dasar kecintaan pada Rabbnya. Ah sungguh diriku iri melihat keluarganya, sederhana, bahagia, anak – anaknya telah ia kenalkan bagaimana menutup aurat dengan sempurna sejak kecil.

Lalu, bagaimana bisa?

Istri Fir’aun tetap beriman ditengah – tengah musuh Allah?

Bagaimana bisa wanita bercadar itu tetap pada prinsipnya ditengah – tengah lingkungan sedemikian rupa?

Ternyata benar bahwa supporting system paling utama atas keimanan kita adalah diri kita sendiri.

Meski tak menampik faktor eksternal lainnya. Karena akupun sangat membutuhkan faktor eks tersebut. Tak bisa kubayangkan bagaimana jika aku terus berlama lama berada dilingkungan rumahku -yang bahkan hamil diluar nikah sudah menjadi hal yang sangat biasa karena saking banyaknya.

Yang harus terus aku syukuri adalah Allah pertemukanku dengan mereka, orang – orang langit, sahabat-sahabat surga in syaa Allah. Yang telah menarikku ke dalam ukhuwah yang luar biasa.

Tapi bagaimana keadaan iman kita, hati kita lah penentu utamanya. Asiyah tak melepaskan imannya, beliau yang mempertahankan cadar berupaya menggenggam erat sunnah. Karena hati – hati mereka telah merindu pada Jannah.

Lalu mengapa Asiyah beriman tapi Fir’aun tidak?

Mengapa wanita bercadar itu mengenal sunnah tapi keluarganya belum?

Hidayah adalah hadiah paling indah dari Allah untuk setiap hamba yang dikehendaki Nya. Allah hanya memberikan hidayah kepada Asiyah dan menutup hati Fir’aun. Allah baru memberikan hidayah kepada wanita bercadar itu tapi belum keluarganya, belum orang-orang dilingkungannya. Itulah kehendak Nya.

Tugas kita berdoa, semoga hati kitalah yang selanjutnya menerima nikmat hidayah dari Nya. Dan terus berdoa semoga Allah tetapkan hidayah itu di hati kita, hingga kaki menginjak JannahNya.

Karena tak ada yang bisa menjamin keadaan iman kita hingga malaikat maut datang menjemput.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

SANG PENGUAT

Oleh: Riska Amelia Wahai diri yang manusiawi, yang terkadang lupa diri, bahkan suka merasa sendiri padahal ada Allah yang selalu menanti curahan hati ini… Sejatinya, manusia itu tidak bisa hidup sendiri, karena manusia merupakan makhluk sosial yang artinya manusia itu pasti saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Berbicara mengenai […]

Subscribe US Now

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial