PERGI

adminNN

Pernah merasa kalah dan tak ingin menampakkan diri?
Pernah merasa sendiri dan tak ada yang peduli?
Pernah merasa sepi walau tak berada dalam sunyi?
Pernah merasa lelah dan tak ada keinginan lain selain menyerah?
Pernah ingin pergi?
Pergi untuk menepi, walau tak tau kapan ingin kembali

Pernah dengar istilah humanisme? Mungkin mahasiswa Pendidikan lebih sering mendengarnya sebagai teori belajar. “Memanusiakan manusia” sedikit banyak begitulah maknanya. Bukankah ketika membacanya, kita membayangkan betapa kejamnya orang-orang yang tidak memanusiakan manusia? Orang-orang yang menghakimi orang lain, orang–orang yang memaksakan kehendak kepada orang lain, orang–orang yang tidak mau memaklumi orang lain, serta tindakan tidak manusiawi lainnya. Tapi takutkah kita, kalau ternyata orang itu adalah diri kita sendiri? Iya, jika ternyata orang yang tidak memanusiakan manusia bisa jadi adalah diri kita sendiri.

Kita sering lupa kalau diri kita adalah manusia juga. Kita sering lupa, kalau diri kita juga berhak lelah. Kita sering lupa, kalau diri kita juga berhak ingin dimaklumi. Kita sering lupa, bahwa menghakimi diri sendiri atas sesuatu yang belum tercapai juga merupakan tindakan yang berlawanan dengan humanisme. Kita sering lupa, bahwa memaksakan diri sendiri juga termasuk tindakan yang tidak memanusiakan manusia. Ah, kitakah orang kejam itu?

Tapi sebentar, ingatkah Ketika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diutus menjadi Rasul kemudian mendakwahi penduduk Mekah yang Jahil kala itu? Ah yang benar saja. Dilempari batu, diancam ingin dibunuh, dianggap gila. Sungguh bukankah itu sangat memaksakan diri? Oh adalagi, ingatkah ketika Muhammad Al Fatih memberikan komando pada pasukannya untuk memperjalankan 72 kapal dalam satu malam di daratan tepat untuk memberikan tekanan psikologis pada penduduk Konstatinopel kala itu?. Bukankah itu sangat memaksakan kehendak? Atau seperti Khalifah Umar Bin Khattab di masa kepemimpinannya ketika sedang berada pada masa paceklik, kemudian ia bersumpah untuk tidak akan menyumpal perutnya dengan daging dan susu sampai rakyat merasakannya lebih dulu. Ah lagi-lagi, bukankah itu tindakan yang memaksakan diri sendiri juga?

Tapi tunggu sebentar, bayangkan saja jika ketika Rasulullah pundung dengan begitu beratnya ujian menjadi seorang Rasul, maka bisa jadi hari ini Islam tak pernah menyentuh Indonesia dan belahan dunia manapun. Bayangkan juga ketika Muhammad Al Fatih menyerah dengan keadaan dan beragam cemoohan yang ditujukan padanya karena usianya yang terlalu muda serta bertubi-tubi kegagalan yang dia hadapi untuk menaklukan tembok Konstantinopel. Maka bisa jadi, sejarah Islam tidak pernah mencatat bahwa Islam memiliki catatan perang heroik yang mampu menaklukkan tembok yang telah coba ditaklukkan ratusan tahun. Masih ada lagi, coba bayangkan lagi jika Khalifah Umar Bin Khattab tak mencontohkan sosok pemimpin yang begitu keras dengan dirinya namun begitu lembut dan penyayang pada rakyatnya serta kekhawatirannya yang teramat terhadap kedzaliman yang bisa dilakukan seorang hamba terhadap amanah kepemimpinan. Maka bisa jadi, Islam tidak memiliki sejarah hebat perluasan penyebaran dan kejayaan Islam hingga diluar Jazirah Arab termasuk penaklukkan Persia dan Mesir yang terjadi pada masa Khalifah Umar Bin Khattab.

Saudaraku, dapatkah kita ambil hikmahnya bersama? Tentang sosok-sosok pelukis sejarah mengukirkan karyanya. Karya-karya hebat yang rasanya waktu tak pernah bisa melupakannya. Tentang begitu banyaknya pengorbanan yang rasanya tak habis dicerna akal. Cukup Allah dan Rasul-Nya bagiku. Begitulah kira-kira kalimat cinta yang bergetar hebat didada dan jiwanya. Kalimat bucin terbaik yang pernah ada. Selain itu, tentang kokohnya keyakinan atas akan datangnya pertolongan Allah dan kemenangan. Ah iya, adakah janji yang lebih pasti daripada janji-Nya? Mari kita ingat janji Allah tentang kemenangan dalam surat Ash Shaff ayat 14

“Wahai orang–orang yang beriman! Jadilah kamu penolong – penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut–pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong–penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami beri kekuatan kepada orang–orang yang beriman terhadap musuh–musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang–orang yang menang”.

Saudaraku, jika suatu hari rasa lelah menghampirimu, rasa kecewa memenuhi segala rasionalisasi, atau mungkin merasa begitu beratnya tanggung jawab yang dipikul dengan di pundakmu, maka istirahatlah. Jangan malu dan jangan merasa tak pantas lagi untuk Kembali berjuang. Tahukah bahwa istirahat adalah bagian dari perjuangan? Ingin pergi menghilang dari semua yang nampak didepan, acuh tak ingin lagi peduli? Biarkan saja dulu egomu berbicara, jika sudah puas toh hatimu selalu tahu bahwa kau harus pulang. Pergilah, Menepilah, tapi jangan lupa kembali. Kembali Bersama orang–orang yang juga tengah berjuang. Mereka mungkin terlihat biasa saja, tak sama seperti yang kau rasa, tapi bisa jadi tidak. Mereka adalah orang- orang yang bersusah payah membangun kembali puing–puing semangatnya, mereka yang bertengkar hebat dengan egonya, mereka yang menyusun kembali setiap asa yang tak jarang terurai berkeping sebelum mampu terwujud.

Dunia memang tempat lelah dan mengeluh, tapi tak lupa dunia juga tempat berjuang dan mengharap ridho-Nya. Ternyata ini bukan soal memanusiakan manusia, hanya saja segala lelah yang terasa membuat kita kurang percaya diri bahwa sesungguhnya kita lebih kuat dari yang kita mampu pikirkan. Jelas saja kan, bukankah kita ciptaan Allah yang Maha Agung lagi Maha Perkasa? Saudaraku, Terima kasih sudah berjuang sejauh ini.

Tetaplah kuat sekali lagi seterusnya karena kita tercipta luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

The Beauty of Islam: The Things That I Love Again and Again

Semakin aku tenggelam akan keindahan dan kedamaian Islam, semakin aku sadar dan bertanya pada diri ini, akankan aku bisa menjadi representasi yang baik untuk Islam? Setiap manusia pasti akan menjalani fase terang dan gelap dalam kehidupan, hingga akhirnya akan ada pembelajaran yang dapat diambil agar menjadi manusia yang lebih baik […]

Subscribe US Now

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial