TENTANG KAMU

adminNN

Oleh: Aditya Mulya Poetra

PEMERAN:

  1. AKU: DIRIKU
  2. KAMU: MUSLIM UIGHUR
  3. DIA: YOU KNOW WHO

Aku hari ini mau bicara. Apa alasanya sampai kamu terlihat murung? Kamu berkata bahwa kamu sudah dituduh berbuat kejahatan. Lalu kenapa mereka menuduhmu? Kamu bicara bahwa kamu adalah minoritas disini, dan banyak penjahat yang gayanya mirip sepertimu.

Sekarangpun aku mulai berpikir cara untuk menenangkanmu. Apa kamu tahu bahwa sentimen anti-kamu itu sudah tersebar luas. Banyak orang yang memanfaatkanmu dan ada juga yang terlalu mencintaimu sehingga menyimpang dari apa yang kamu ajarkan. Kamu membicarakan tentang banyaknya dia yang membencimu dan bersikap agresif padamu. Aku katakan bahwa itu karena dua hal, dia mendapat pengalaman yang buruk atau dia yang ikut-ikutan membencimu. Jangan sampai kamu membenci orang yang salah dan berbalik menjadi anti-dia.

Apa kamu ingat tentang masa lalumu? Kamu adalah kalangan terkenal. Bahkan Kaisar Zhu Di sangat menghormatimu. Sudahlah lupakan siapa itu Kaisar Zhu Di. Intinya kamu itu tidak dibenci, kamu itu awalnya disukai karena keahlian dalam berdagang dan bergaul. Kamu bisa beradaptasi dengan mudah karena prinsipmu yang kuat dan jelas. Namun, ada beberapa orang yang membuatmu buruk. Entah dari kalanganmu sendiri ataupun dari kalangan yang memang tidak menyukaimu.

Dia membencimu karena tidak tahu tentangmu, dan juga ada yang tidak mau tahu tentangmu. Kamu hanya harus bicara saat dia mendengarkanmu saja. Kamu difitnah dan diperlakukan buruk oleh dia, jangan membencinya, dia hanya mendapat pengalaman ataupun berita yang buruk tentangmu. Jelaskanlah jati dirimu sesungguhnya, katakan dan lakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Janganlah membawa api dalam hatimu dan membakar orang yang menghinamu. Jadilah air yang tenang dan dapat mengendalikan situasi. Karena Allah pasti selalu bersama hamba-Nya yang sabar dan selalu berusaha dalam berbuat kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

KEKUATAN RINDU

Hari ini langit tetap cantik seperti biasa, ditambah gumpalan putih yang menyebar tak beraturan bak Istana kapas yang megah. Langkahku gontai menyusuri jalan setapak di salah satu jalanan ibukota. Masih terngiang bagaimana kegagalan yang terus menghantui, membuatku tak ingin memaafkan dan menerima diriku sendiri. “Kenapa bisa?” , “ Apasih yang […]

Subscribe US Now

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial