TWO IN ONE

adminNN

Oleh: Indah Karunia


“Hijrah jangan setengah-setengah,

Agar Istiqomah, tidak terengah-engah.

Karena yakinlah,

Ujung lelah ini adalah Ridho Sang Maha Pemurah”

Menengok bagaimana sejarah melukiskan seorang pemuda 3M (Muda, Menawan, Mapan). Beliaulah Mushab Bin Umair atau Mushab Al Khoir.  Terlahir dari keluarga yang kaya raya.  Namun kala itu, sebuah majelis di Darul Arqam bin Abil Arqam berhasil menaklukan hatinya. Mushab pun menyatakan masuk Islam, dengan konsekuensi Ibunya yang mulanya begitu menyayanginya, tidak lagi mengakui Mushab sebagai anak karena telah keluar dari agama nenek moyangnya. Namun, hal itu tidak melunturkan syahadat dalam hatinya.

Beberapa track record Mushab dalam menegakkan agama Allah yaitu diembankan amanah oleh Rasulullah untuk menjadi Duta Islam di Madinah dalam mempersiapkan peristiwa hijrahnya kaum muslimin dari Mekah menuju Madinah. Selain itu, beliau menjadi salah satu orang yang Rasulullah tugaskan untuk menjaga Panji Islam dalam peperangan yang berhadiahkan syahid dalam peperangan tersebut.

Dari kisah diatas, kita dapat mengambil hikmah betapa nikmat hijrah adalah kekuatan luar biasa dengan bahan bakarnya ialah keimanan kepada Allah dan RasulNya. Hijrah diartikan sebagai “perpindahan”. Secara temporalis, kata ini menggambarkan peristiwa perpindahan kaum muslimin dari Mekah menuju Madinah. Namun, secara maknawiyah kata Hijrah dapat menggambarkan perpindahan dari sesuatu yang kurang baik menuju lebih baik. Hal inilah yang diaplikasikan oleh Mushab Bin Umair dalam memenangkan kehidupannya.

Hijrah bukan perkara sudah siap atau belum siap Bro Sis, tapi mau atau tidak mau. Karena sesungguhnya manusia itu cenderung pada kebaikan. Tinggal bagaimana mampu mengontrol nafsu dengan iman dan rasa takutnya kepada Allah. Orang orang yang hari ini terlihat baik, bukan berarti mereka yang tidak pernah memiliki atau berbuat dosa selama hidupnya, “Sholeh dari lahir” mungkin , tapi tidak. Mereka adalah orang-orang yang berjuang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan buruknya dan menjadikan masa lalu adalah guru terbaiknya serta menjadikan Allah sebagai tujuannya.

.

 Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang_  (Al Baqarah: 218)

Ayat tersebut adalah bukti , bahwa orang-orang yang hijrah bukanlah orang-orang yang dipastikan bebas dari dosa, tapi adalah orang-orang yang mengharapkan Rahmat Allah, mengharapkan ampunan Yang Maha Pengampun, mengharapkan kasih sayang yang Maha Penyayang. Jadi ibaratnya kita berharap mau kuliah S2 keluar negeri, apakah udah pasti kita langsung jadi orang yang ga pernah malas-malasan? Engga kan, tapi dengan harapan itu, kita menjadi selalu punya motivasi untuk engga terjerumus pada kemalasan agar dapat meraih harapannya. Iya, Hijrah adalah soal Mau tidak mau, bukan siap atau tidak siap.

Hijrah adalah jembatan yang menyambungkan antara kemaksiatan dan kebajikan, hijrah adalah bentuk taubat. Hijrah adalah sebuah pintu kembalinya seorang Hamba untuk pulang kepada jalan- jalan yang diridhoi Allah. Ketika niat hijrah itu sudah ada didalam hati, pikiran ,serta perbuatan maka ini tidak berarti siap menjadi orang yang tidak akan pernah lagi berbuat dosa, Justru Hijrah ibarat sebuah alarm pengingat yang membuat hati peka jika sudah melakukan kesalahan dan kemudian bertaubat untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

“Hijrah jangan sendirian, Berat. Kamu gaakan kuat, Yuk Bareng- bareng”.

Kalimat ini adalah bentuk penerapan yang diadaptasi dari keindahan kalimat langit di Surat Asy-Syuara ayat 83.  “Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh”. Eitss, bukan berarti kita ketika hijrah jadi pilih-pilih teman dan ga suka berbaur ya. Berbaur boleh kok, asal jangan melebur. Dalam surat Asy Syuara ayat 83 mengartikan bahwa kita memohonkan hidayah kepada Allah agar selalu berada pada jalan-jalan yang Allah Ridhoi, nah untuk terus berada di jalan-jalan yang Allah Ridhoi kita perlu sahabat -sahabat yang shaleh. Sahabat yang saleh adalah sahabat yang selalu menasihati dalam kebenaran dan menasihati dalam kesabaran, persis seperti Surat Al Ashr ayat 3.

“Ohh ternyata ketika kita sudah meniatkan diri untuk berhijrah, bukan berarti mulus-mulus aja ya buat mendekati Allah, makanya perlu sahabat sahabat yang saleh….”

Iya, bener banget. Hal itu selaras dengan firman Allah di Al Ankabut ayat 2-3.

 “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Nah, kalo diawal tadi yang menyangkut soal ‘mau atau tidak mau berhijrah’ itu Ujian tingkat 1, nah ini ada ujian tingkat dua, yang disebut Istiqomah.

Secara etimologi, kata istiqomah berasal dari bahasa arab  yang berarti lurus atau tegak. Secara terminologi Ibnu Hajar mengatakan bahwa Istiqomah berarti menempuh  jalan yang lurus – agama yang benar- tanpa berbelok kekanan ataupun kekiri (penyimpangan), dan hal itu mencangkup segala bentuk ketaatan – entah itu zhahir ataupun batin – dalam mengerjakan perintah dan juga dalam meninggalkan segala bentuk larangan.

Contoh Istiqomah itu kayak gimana? Eits tenang, kita punya kisah Istiqomah dari wanita hebat yang bernama Masyitah. Masyitah adalah pengasuh anak Firaun. Ada tiga orang yang beragama Islam secara sembunyi-sembunyi di kerajaan Firaun, yaitu Asiyah (Istri Firaun), Masyitah (Pengasuh) dan Hazaqil (Suami Masyitah dan orang kepercayaan Firaun).

Suatu ketika Firaun mengetahui bahwa Hazaqil menyembah Allah bukan dirinya, sehingga Firaun menjatuhkan hukuman mati kepada Hazaqil dengan mengikatkan di pohon kurma di tubuhnya diserbu anak panah yang menghujam. Melihat kondisi suami Masyitah yang mengenaskan , Masyitah hanya bisa berserah diri kepada Allah dan tidak bergetar sedikitpun keimanannya kepada Allah.

Hingga pada suatu hari, Masyitah sedang menyisir rambut anak Firaun, tidak sengaja sisirnya terjatuh. Masyitah pun mengambilnya dan menyebut _Bismillah_. Mendengar itu, anak Firaun mengadukan hal tersebut kepada ayahnya. Firaun sangat marah. Firaun  memerintahkan para pengawal menyiapkan minyak mendidih di dalam tembaga besar. Firaun hendak menggodok Masyitah dengan anak-anaknya. Satu persatu anak Masyitah dilemparkan kedalam wadah tersebut, hingga sampai kepada giliran anak Masyitah yang masih bayi untuk dilemparkan. Hati Masyitah sangat tidak tega, hampir jiwa keibuannya melebihi imannya kepada Allah. Namun Allah memberikan keajaiban kepada anak bayi tersebut sehingga dapat berbicara dan menguatkan iman Ibunya. Sehingga Masyitah dan anak-anaknya pun dibakar hidup-hidup dalam wadah tersebut dan dipertontonkan didepan masyarakat. Namun, Kuasa Allah Maha Besar sehingga keluar bau harum dari jasad Masyitah dan anak-anaknya , bahkan hingga tulang belulang Masyitah dimasukkan kedalam kubur, tetap mengeluarkan bau harum dari kuburnya.

Kisah tersebut adalah satu dari sekian banyak kisah hebat yang mewujudkan satu kata bermakna luar biasa, yaitu Istiqomah. Istiqomah ini dibahas dalam surat cintaNya, Al Fushilat ayat 30 yaitu, Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Ketika kita sudah menetapkan untuk berhijrah, Allah sudah bilang bahwa bukan tidak mungkin kita akan diuji dengan hal-hal yang akan membuat kita sedih dan hal-hal yang membuat kita takut. Tapi tenanglah, itulah ujian keistiqomahan yang akan berbuah kegembiraan dan JannahNya. Oleh karenanya, kita butuh sahabat-sahabat yang saleh yang menasihati kita untuk selalu bersabar dan bersyukur atas setiap jalan yang dipilihkan olehNya.

Mengenal Islam, berarti Allah hadapkan kita pada ujian – ujian keimanan. Salah satunya untuk menguji, seberapa sabar dan percaya hambaNya kepadaNya. Allah menyukai doa-doa yang dipanjatkan penuh pengharapan hanya kepadaNya, Allah menyukai sujud-sujud yang tenang penuh sikap Ihsan didalamnya, Allah menyukai setiap air mata hambaNya yang turun,  karena kecintaan seorang hamba kepada RabbNya. Hijrah dan Istiqomah adalah dua hal yang menjadi isi dalam Iman.

Wallahu a’lam Bishowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

MENGAKU CINTA; RAMADHAN YANG SEBENTAR

Oleh: Syaima Mufida Dear, bagaimana bisa kamu mengeluh bosan di tengah orang-orang yang sedang berjuang untuk sembuh? Bagaimana bisa kamu mengeluh bingung melakukan apa di saat orang-orang sedang berjuang #melawancorona? Bagaimana bisa kamu mengeluh jenuh di saat orang-orang masih harus menjalankan amanahnya di tengah pandemi? Bagaimana bisa kamu mengeluh sana […]

Subscribe US Now

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial